Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Anjlok 11%, Rupiah Sentuh Rp18.000/US$

Indeks saham acuan turun 11,27% ke level 5.203, sementara rupiah melemah ke Rp18.000/US$, dipicu tekanan sektor dan isu klasifikasi pasar oleh MSCI.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 12.07 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 97x dibuka
IHSG Anjlok 11%, Rupiah Sentuh Rp18.000/US$📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat (16/10/2026), menutup sesi pagi di posisi 5.203,19, melemah 660,59 poin atau 11,27% dari pembukaan di level 5.393,92. Pergerakan ini menunjukkan tekanan jual yang intensif, dengan indeks sempat menyentuh titik terendah harian di 5.193,22 sebelum sedikit rebound. Puncak pergerakan terjadi pada awal sesi, ketika IHSG sempat berada di level tertinggi 5.404,51, hanya sedikit lebih tinggi dari harga pembukaan. Volume perdagangan mencapai 61,6 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp1,73 triliun.

Kinerja sektor menggambarkan kondisi pasar yang terpuruk, dengan infrastruktur menjadi yang paling terdampak, anjlok lebih dari 13,9%. Sektor energi turun 11%, sementara material dasar terpangkas 8,7%. Beberapa emiten menjadi penekan utama IHSG, antara lain Barito Renewables Energy (BREN), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Bank Central Asia (BBCA), Chandra Asri Pacific (TPIA), dan VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR). Di sisi lain, saham seperti Amman Mineral Internasional (AMMN), Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), United Tractors (UNTR), dan Bank of India Indonesia (BSWD) menjadi penopang terhadap pelemahan indeks.

Di pasar valuta asing, rupiah mengalami tekanan berkelanjutan. Pada perdagangan Jumat pagi, mata uang Garuda dibuka melemah 0,33% ke posisi Rp17.980/US$. Dalam waktu dua menit, pelemahan memperdalam hingga menyentuh Rp18.000/US$. Penguatan dolar AS ini melanjutkan tren melemahnya rupiah pada Kamis (15/10/2026), ketika mata uang lokal ditutup melemah 0,14% di Rp17.920/US$, setelah sempat menyentuh level Rp17.957/US$.

Sentimen pasar dipengaruhi oleh isu klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, yang sedang dalam proses konsultasi untuk menaikkan status Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market. Meski belum final, keputusan akhir akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027, dengan periode masukan pasar berakhir 30 April 2027. MSCI menyatakan bahwa klasifikasi Indonesia sebagai pasar berkembang tidak lagi relevan, mengingat kekhawatiran soal investabilitas, transparansi kepemilikan, praktik perdagangan terkoordinasi, serta lemahnya penegakan aturan. Selama konsultasi, MSCI mempertahankan status quo dengan tidak menaikkan FIF, NOS, atau menambah saham baru ke indeks.

Kebijakan ini berpotensi memperkuat kehati-hatian investor asing terhadap aset lokal. Jika terjadi aliran modal keluar dari pasar saham Indonesia, permintaan dolar AS akan meningkat, menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. MSCI menegaskan bahwa pembaruan sementara akan disampaikan selama masa konsultasi, namun keputusan akhir tetap menunggu hingga akhir Juni 2027.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya