Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Anjlok 2,16% di Akhir Sesi I, Tekanan Global Picu Pelemahan

Indeks harga saham gabungan turun 2,16% pada akhir sesi pertama, didorong tekanan dari pasar global dan sentimen ekonomi AS yang memanas.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 15.50 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 71x dibuka
IHSG Anjlok 2,16% di Akhir Sesi I, Tekanan Global Picu Pelemahan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi pertama perdagangan dengan penurunan signifikan sebesar 2,16%, mencatatkan penurunan tajam di tengah tekanan dari sektor-sektor utama. Dari total 963 saham yang diperdagangkan, 646 mengalami pelemahan, 231 stagnan, dan hanya 86 yang menguat. Tekanan terutama berasal dari sektor infrastruktur yang anjlok 5,4%, disusul energi turun 3,7% dan material dasar melemah 3,2%. Pergerakan ini memperkuat tekanan pada pasar modal domestik yang rentan terhadap volatilitas eksternal.

Beberapa emiten besar menjadi pemberat utama penurunan, termasuk PT. Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), serta PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM). Di sisi lain, saham-saham penopang seperti PT. Bank of India Indonesia Tbk. (BSWD), PT. United Tractors Tbk. (UNTR), PT. Tifico Fiber Indonesia Tbk. (TFCO), PT. Global Digital Niaga Tbk. (BELI), dan PT. Alkindo Naratama Tbk. (ALDO) berhasil menahan koreksi lebih dalam.

Sentimen pasar terus terbebani oleh perkembangan geopolitik, terutama ancaman serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak dan bandara di Arab Saudi. Serangan yang dilaporkan menghantam kompleks Saudi Aramco di Dhahran diperkirakan akan memperparah ketegangan di kawasan, yang berdampak pada stabilitas harga minyak global. Di sisi lain, inflasi AS kembali melonjak, dengan data CPI September 2026 mencapai 3,7% year-on-year, melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga energi, terutama bensin yang melonjak 34,2% dan minyak pemanas 74,2% secara tahunan.

Indeks dolar AS pun melonjak ke level 102,555, berada di posisi tertinggi sejak April 2025. Kenaikan ini berpotensi memperkuat dolar dan menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah. Sementara itu, surplus perdagangan China pada September 2026 mencapai US$133,53 miliar, melampaui ekspektasi pasar, didorong ekspor yang melonjak 36,3% menjadi US$447,18 miliar. Kenaikan impor China yang mencapai 31% juga menjadi sinyal positif bagi ekspor Indonesia.

Diskusi penting antara Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam sesi Fireside Chat di Bangkok menjadi perhatian pasar. Pernyataan Warsh diharapkan memberikan petunjuk arah kebijakan moneter AS, yang dapat memengaruhi imbal hasil obligasi, pergerakan dolar, dan arus modal ke pasar berkembang. Pasar juga menantikan rilis data PPI AS untuk September, yang diperkirakan akan menunjukkan tekanan inflasi lanjutan dari sektor produksi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya