Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Anjlok 2% Dipicu Tekanan Global dan Inflasi AS Meningkat

Pasar keuangan Indonesia terganggu dengan penurunan IHSG sebesar 2% akibat kenaikan inflasi AS, lonjakan indeks dolar, serta ketegangan geopolitik yang memengaruhi sentimen investor.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 23.12 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 93x dibuka
IHSG Anjlok 2% Dipicu Tekanan Global dan Inflasi AS Meningkat📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sebesar 2% pada perdagangan hari ini, mencerminkan tekanan kuat dari dinamika pasar global yang memburuk. Volume perdagangan mencapai 143,13 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp4,3 triliun, menunjukkan aktivitas tinggi namun bergerak dalam arah negatif. Penurunan ini didorong oleh sejumlah faktor eksternal yang mengganggu sentimen pasar, termasuk perkembangan konflik di Yaman dan data ekonomi AS yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.

Kenaikan inflasi tahunan di Amerika Serikat menjadi pemicu utama. Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi September 2026 mencapai 3,7%, melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Lonjakan harga energi menjadi penyebab utama, dengan harga bensin naik 34,2% dan minyak pemanas melonjak 74,2% secara tahunan. Secara bulanan, IHK AS naik 0,6%, terbesar sejak April 2026, didorong kenaikan harga bensin hingga 9,1%. Inflasi inti juga meningkat menjadi 2,6% dari 2,4% bulan sebelumnya, menunjukkan tekanan harga yang menyebar di sektor ekonomi.

Indeks dolar AS merangkak naik hingga menyentuh level 102,555, posisi tertinggi sejak April 2025. Penguatan dolar ini berpotensi memperlemah mata uang emerging market termasuk rupiah, dengan risiko arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Di sisi lain, surplus perdagangan China mencapai US$133,53 miliar pada September 2026, melonjak dari US$88,72 miliar tahun lalu, didukung ekspor yang tumbuh 36,3% dan impor yang naik 31%. Meski demikian, kenaikan impor China justru memberi harapan bagi ekspor Indonesia, terutama dalam sektor komoditas dan produk manufaktur.

Pertemuan IMF-World Bank di Bangkok menjadi sorotan utama hari ini, khususnya diskusi antara Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. Pernyataan Warsh diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS, yang berdampak langsung pada imbal hasil obligasi AS, pergerakan dolar, dan harga emas. Pasar juga menantikan rilis data PPI AS untuk September, yang diperkirakan menunjukkan inflasi produsen tetap tinggi, sejalan dengan kenaikan biaya transportasi dan bahan baku.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya