Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Anjlok 8% Saat Perdagangan Dihentikan Sementara

Indeks Harga Saham Gabungan turun 8,01% pada pembukaan perdagangan Jumat, menyebabkan trading halt setelah menyentuh level terendah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 12.08 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 44x dibuka
IHSG Anjlok 8% Saat Perdagangan Dihentikan Sementara📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada awal perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, langsung menyentuh level terendah dan memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt). Pada pembukaan sesi I, IHSG berada di posisi 5.393,92, turun 469,86 poin atau 8,01% dibandingkan penutupan sebelumnya di 5.863,78. Volume perdagangan tercatat mencapai 53,6 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp922,33 miliar.

Penurunan ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal yang memperberat tekanan pasar. Data inflasi harga produsen (PPI) AS yang melonjak 1,3% bulanan dan naik 6,3% tahunan menjadi kekhawatiran utama, menandai kenaikan tertinggi sejak Desember 2022. Kenaikan biaya transportasi hingga 3,8% dan tarif penerbangan 5% menunjukkan tekanan inflasi yang terus meluas, khususnya di sektor jasa.

Di tengah kondisi global yang memburuk, pasar Indonesia juga dihantui isu kebijakan domestik. MSCI membuka konsultasi untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Alasannya meliputi kekhawatiran terhadap transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas penegakan regulasi. MSCI menegaskan belum melihat kemajuan signifikan, sehingga mempertahankan pembekuan peningkatan FIF dan penambahan saham ke indeks utama.

Diskusi antara Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam acara IMF-World Bank di Bangkok juga menjadi perhatian pasar. Sinyal kebijakan moneter AS yang lebih ketat berpotensi memperkuat dolar AS, menekan rupiah, dan mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia. Di dalam negeri, isu reshuffle kabinet turut memengaruhi sentimen pasar, menambah ketidakpastian di tengah tekanan eksternal yang kian menguat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya