Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melesat 0,39% Didorong Kenaikan Sektor Properti dan Minimnya Tekanan Dolar

Indeks harga saham gabungan naik 0,39% ke level 5.948 berkat penguatan sektor properti dan pelemahan dolar AS serta imbal hasil obligasi AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 21.07 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 167x dibuka
IHSG Melesat 0,39% Didorong Kenaikan Sektor Properti dan Minimnya Tekanan Dolar📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,39% pada posisi 5.948 pada perdagangan hari ini, didukung oleh dominasi saham yang menguat dengan 291 emiten melonjak, meskipun 342 saham melemah dan 330 lainnya stagnan. Volume perdagangan mencapai 259,48 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp8,05 triliun, menunjukkan aktivitas pasar yang relatif stabil. Penguatan terjadi setelah sektor properti menjadi pendorong utama dengan kenaikan 2,09%, disusul oleh sektor keuangan yang naik 0,7% dan sektor konsumer non kritikal yang melonjak 0,4%.

Berdasarkan data pergerakan saham, emiten unggulan yang turut mendorong kenaikan IHSG antara lain PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO). Di sisi lain, saham-saham yang menjadi beban pasar termasuk PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS).

Pelemahan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi AS menjadi faktor pendukung sentimen pasar. Indeks dolar turun 0,37% ke level 102,18, sementara yield obligasi AS tenor 10 tahun turun 2,3 basis poin menjadi 5,217%. Penurunan ini didorong oleh penurunan harga minyak dan penyesuaian posisi investor yang mulai menarik dana dari instrumen berdenominasi dolar menuju pasar berkembang seperti Indonesia. Hal ini menambah optimisme terhadap arus modal asing dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Dalam konteks global, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 menjadi 3,1%, sedikit lebih rendah dari 3,5% pada 2025, namun naik 0,1 poin dari proyeksi sebelumnya. Namun, IMF memperkirakan pertumbuhan kembali meningkat menjadi 3,4% pada 2027. Inflasi global diperkirakan naik ke 4,7% di 2026 sebelum melandai ke 4,1% pada 2027, dengan peringatan khusus terhadap negara berkembang berpendapatan rendah yang rentan terhadap lonjakan harga energi.

Pasar juga menanti rilis data inflasi China dan AS pada hari ini, Rabu (14/10/2026). Data IHK China Agustus 2026 menunjukkan kenaikan tahunan 0,8%, didorong kenaikan biaya transportasi, kesehatan, pendidikan, dan perumahan, sementara inflasi inti naik menjadi 1,0%. Di sisi lain, inflasi AS pada Agustus 2026 tetap di 3,4% secara tahunan, dengan kenaikan bulanan 0,4% terutama dipicu harga bensin. Inflasi inti naik 0,3% bulanan, melambat menjadi 2,4% secara tahunan, terendah sejak Maret 2021. Data ini akan menjadi acuan utama bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya