Senin, 12 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terkoreksi 2% di Sesi I, Tekanan Global dan MSCI Jadi Pemicu

Indeks saham domestik melemah 1,94% ke level 5.975 akibat tekanan dari sentimen global, ketidakpastian kebijakan MSCI, dan pelemahan sektor utama.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 12 Oktober 2026, 15.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
IHSG Terkoreksi 2% di Sesi I, Tekanan Global dan MSCI Jadi Pemicu📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada sesi perdagangan pertama hari ini, mencatatkan penurunan 117,98 poin atau 1,94% ke posisi 5.975. Pada puncak koreksi intraday, indeks sempat menyentuh level 5.971, menunjukkan tekanan jual yang kuat sejak awal perdagangan. Pelemahan ini terjadi di tengah ketidakpastian yang meluas, baik dari sisi ekonomi global maupun kebijakan pasar keuangan internasional.

Seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia mengalami koreksi, dengan sektor energi menjadi yang paling terdampak dengan penurunan 3,57%. Sektor infrastruktur dan material dasar menyusul dengan penurunan masing-masing 3,33% dan 2,77%. Sementara itu, sektor industri, konsumer primer, dan transportasi juga turut melemah di kisaran 2% hingga 1,8%. Pergerakan negatif juga terjadi pada sektor keuangan, teknologi, kesehatan, properti, dan konsumer non-primer, menandakan tekanan menyeluruh terhadap pasar.

Analis Phintraco Sekuritas, Desy Erawati, menekankan bahwa sentimen terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) tetap menjadi fokus utama pasar. Pasar masih menanti evaluasi atas pembekuan kenaikan faktor inklusi asing (FIF), jumlah saham (NOS), serta penambahan saham baru dalam indeks. Keputusan akhir diproyeksikan akan diumumkan pada akhir Oktober 2026, menyusul peninjauan indeks yang dilakukan pada November 2026. Ketidakpastian ini memperkuat kecenderungan hati-hati di kalangan investor.

Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas menyoroti ketergantungan pasar terhadap data ekonomi utama global, khususnya inflasi AS dan China, yang akan dirilis pada akhir pekan ini. Peningkatan inflasi AS berpotensi memperkuat dolar AS, menekan nilai tukar rupiah, dan mengurangi arus modal asing ke pasar Indonesia. Di samping itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan pertemuan IMF-Bank Dunia juga turut memengaruhi sentimen pasar. Dalam jangka pendek, prospek IHSG diperkirakan negatif mengingat tekanan dari berbagai faktor eksternal.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya