Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terkoreksi Tajam Didorong Tekanan Global

Pelemahan indeks saham domestik dipicu kenaikan inflasi AS, kenaikan dolar, dan ketegangan geopolitik yang memperburuk sentimen pasar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 17.34 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 33x dibuka
IHSG Terkoreksi Tajam Didorong Tekanan Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sebesar 2% pada perdagangan hari ini, mencatat penurunan terbesar dalam sepekan terakhir. Penyebab utama terjadinya koreksi berasal dari tekanan sektor infrastruktur yang anjlok 4,8%, disusul sektor energi turun 3,7% dan material dasar melemah 3%. Beberapa emiten utama yang menjadi pemberat, seperti Bayan Resources, Bumi Resources Minerals, Barito Renewables Energy, Bank Central Asia, serta Dian Swastatika Sentosa, turut mencatatkan penurunan tajam dalam kinerja harian.

Pasar keuangan domestik juga terdampak oleh sentimen global yang memburuk. Data inflasi AS yang naik menjadi 3,7% secara tahunan pada September 2026, melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%, menjadi pemicu utama kenaikan indeks dolar yang menyentuh level 102,555—level tertinggi sejak April 2025. Lonjakan harga energi, terutama bensin yang melonjak 34,2% tahunan dan minyak pemanas 74,2%, menjadi penggerak utama kenaikan tersebut. Inflasi inti juga melonjak menjadi 2,6% dari 2,4% pada Agustus, menambah kekhawatiran atas kebijakan moneter yang akan lebih ketat.

Di tengah ketegangan geopolitik, ancaman serangan Houthi terhadap fasilitas minyak dan bandara Arab Saudi memperburuk ketidakpastian pasar. Serangan yang dilaporkan menghantam kompleks Saudi Aramco di Dhahran diperkirakan akan mengganggu upaya diversifikasi ekonomi Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Sementara itu, surplus perdagangan China melonjak menjadi US$133,53 miliar pada September, didorong ekspor yang tumbuh 36,3% secara tahunan, termasuk kenaikan ekspor mobil ke AS dan Uni Eropa yang signifikan.

Kenaikan impor China yang mencapai 31% tahunan menjadi peluang bagi ekspor Indonesia, terutama komoditas dan produk industri. Namun, di sisi lain, inflasi produsen China melonjak menjadi 5%—tertinggi sejak Juni 2022—mencerminkan tekanan biaya produksi yang dapat berdampak pada rantai pasok global. Pada hari ini, pasar juga menanti pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam sesi diskusi dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di Bangkok, yang diharapkan memberi sinyal arah kebijakan moneter AS dan dampaknya terhadap arus modal global.

Dengan kondisi inflasi tinggi di AS, kenaikan dolar, dan ketegangan geopolitik, pelaku pasar memperkirakan tekanan terhadap rupiah akan meningkat, berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Kondisi ini menekan investor untuk berhati-hati dalam menilai risiko pasar, khususnya dalam instrumen berisiko tinggi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya