Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IMF Perkirakan Pertumbuhan Global 2026 Turun Sedikit, Teknologi dan Krisis Energi Penentu

IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 3,1 persen, didorong investasi AI dan respons pasokan energi, meski tekanan dari konflik Timur Tengah tetap mengancam.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 17.55 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 33x dibuka
IMF Perkirakan Pertumbuhan Global 2026 Turun Sedikit, Teknologi dan Krisis Energi Penentu📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Dana Moneter Internasional (IMF) memperbarui proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026 menjadi 3,1 persen, meningkat 0,1 poin persentase dari perkiraan sebelumnya pada Juli. Kenaikan ini tercermin dalam laporan terbaru World Economic Outlook yang menyoroti ketahanan ekonomi di tengah tekanan geopolitik dan perubahan struktural, terutama melalui dorongan investasi besar dalam kecerdasan buatan. Meski demikian, pertumbuhan diperkirakan melambat dari 3,5 persen pada 2025, baru kembali membaik ke 3,4 persen pada 2027.

Pertumbuhan global kini lebih terkonsentrasi, dengan hanya 32 negara yang menyumbang 95 persen dari total pertumbuhan, berkurang dari 54 negara pada April. Sebanyak 47 persen perekonomian mengalami revisi proyeksi ke bawah. Dinamika ini menunjukkan pergeseran fundamental: ekonomi yang terintegrasi erat dengan inovasi teknologi dan rantai pasokan AI cenderung tahan terhadap gejolak energi, sementara negara pengimpor energi dengan keterbatasan akses teknologi menghadapi tekanan berat, termasuk pelemahan mata uang dan penurunan pendapatan riil.

Gangguan di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia, diperkirakan memengaruhi ekonomi global hingga 0,9 poin persentase jika tidak diimbangi. Namun, pengalihan rute, peningkatan produksi, penggunaan cadangan, serta efisiensi energi menurunkan dampak bersih menjadi sekitar 0,3 poin persentase. IMF memproyeksikan kembali normalisasi pada Oktober 2027, dengan asumsi jalur tersebut dibuka kembali pada Maret 2027.

Negara-negara produsen energi seperti Arab Saudi, Bahrain, Irak, Kuwait, dan Qatar diperkirakan mengalami kontraksi ekonomi dua digit pada 2026, terutama karena gangguan distribusi dan output. Arab Saudi diproyeksikan mengalami kontraksi 3,3 persen, turun 5 poin dari proyeksi Juli. Harga minyak diperkirakan rata-rata mencapai 95,74 dolar AS per barel pada 2026—naik 41 persen dari 2025—sebelum turun ke 87,39 dolar AS pada 2027.

Inflasi utama global diperkirakan naik dari 4,1 persen di 2025 menjadi 4,7 persen di 2026, baru menurun kembali ke 4,1 persen di 2027. Inflasi inti baru akan kembali ke target 2 persen pada akhir 2027 di Jepang dan Inggris, serta pertengahan 2028 di zona euro dan Amerika Serikat. Pertumbuhan AS diproyeksikan stabil di 2,3 persen untuk kedua tahun, didukung investasi teknologi dan konsumsi. India tetap menjadi kekuatan tumbuh dengan proyeksi 7,0 persen, sementara kawasan euro diperkirakan tumbuh 1,1 persen di 2026 dan 1,2 persen di 2027.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya