Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Bisa Pilih Jalur Energi Otomotif Sendiri

Pakar menekankan pentingnya pendekatan multipathway dalam transformasi otomotif nasional, menghindari ketergantungan penuh pada model China atau Eropa.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 23.09 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Indonesia Bisa Pilih Jalur Energi Otomotif Sendiri📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indonesia memiliki potensi unik dalam pengembangan industri otomotif yang tidak dimiliki negara lain, terutama dalam hal kekayaan sumber daya alam nabati. Menurut pakar dari Universitas Pertamina, strategi transisi energi tidak harus meniru sepenuhnya model yang diterapkan di negara sub-tropis seperti China atau Eropa. Karena kondisi geografis dan ketersediaan bahan baku cair nabati yang melimpah, Indonesia mampu menjadi pemimpin dalam penggunaan biofuel, sehingga tidak perlu memilih satu arah teknologi secara eksklusif.

Pendekatan multipathway dinilai lebih realistis dan berkelanjutan, di mana berbagai teknologi seperti mesin pembakaran dalam efisien, kendaraan hibrida, kendaraan listrik, serta pemanfaatan bahan bakar nabati dapat berjalan beriringan. Menurutnya, keberhasilan Indonesia dalam program biodiesel sudah membuktikan bahwa kebijakan yang konsisten dan dukungan infrastruktur dapat menggerakkan transformasi energi secara mandiri. Oleh karena itu, kebijakan nasional harus dirancang dengan mempertimbangkan kenyataan lokal, bukan sekadar mengekor tren global.

Kunci keberhasilan transformasi otomotif juga terletak pada kualitas sumber daya manusia yang mampu mengelola teknologi secara mandiri, bukan hanya memenuhi indikator formal seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Pengembangan SDM harus sejalan dengan kemajuan industri, agar tidak terjadi ketergantungan pada teknologi asing. Selain itu, stabilitas regulasi dan keterlibatan sektor swasta menjadi faktor penentu agar investasi tetap berkelanjutan di tengah perubahan kebijakan.

Pengalaman lebih dari dua dekade dalam pengelolaan bahan bakar nabati menunjukkan bahwa tantangan utama bukan pada aspek teknis, melainkan dinamika sosial, ekonomi, dan politik. Karena itu, keberhasilan program seperti biodiesel B50 bukan hanya hasil dari teknologi, tetapi juga dari kebijakan yang kuat, pendanaan yang memadai, serta keterlibatan aktif pelaku usaha. Pembelajaran ini perlu menjadi acuan dalam menyusun strategi transisi energi otomotif yang berkelanjutan dan sesuai dengan karakteristik Indonesia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya