Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Dorong Hilirisasi untuk Capai Rp3.839 Triliun hingga 2029

Pemerintah menargetkan realisasi investasi hilirisasi senilai Rp3.839 triliun pada periode 2025–2029, didukung pertumbuhan signifikan di sektor nikel dan pemerataan ekonomi di luar Jawa.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 15.25 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Indonesia Dorong Hilirisasi untuk Capai Rp3.839 Triliun hingga 2029📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah memperkuat langkah strategis dalam pengembangan industri berbasis sumber daya alam dengan menetapkan target realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp3.839 triliun dalam empat tahun ke depan, mulai 2025 hingga 2029. Capaian ini menjadi bagian dari upaya transformasi ekonomi nasional yang berfokus pada peningkatan nilai tambah produk lokal. Dalam semester pertama 2026, realisasi investasi hilirisasi telah mencapai Rp300 triliun, menunjukkan kenaikan 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peta jalan hilirisasi untuk 28 komoditas strategis diproyeksikan mampu menghasilkan investasi sebesar 618,1 miliar dolar AS, ekspor mencapai 857,6 miliar dolar AS, serta menciptakan nilai tambah sebesar 235,9 miliar dolar AS. Dengan potensi tersebut, ekspor Indonesia dari program ini diperkirakan dapat mendekati 500 miliar dolar AS, mencerminkan peran penting hilirisasi dalam memperkuat posisi perdagangan global.

Peningkatan ekspor produk berbasis nikel menjadi salah satu bukti nyata keberhasilan kebijakan ini, yang naik dari 1,3 miliar dolar AS pada 2016 menjadi 34 miliar dolar AS pada 2025. Selain itu, sekitar 75,7 persen investasi hilirisasi pada semester I 2026 berlokasi di luar Jawa, menunjukkan efek pemerataan ekonomi yang signifikan serta mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di daerah berpotensi sumber daya alam.

Pemerintah juga mempercepat transformasi industri menuju nilai tambah tinggi dengan memperkuat agroindustri, manufaktur, digitalisasi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan. Ketersediaan energi yang kompetitif dan berkelanjutan menjadi fondasi penting untuk menjaga daya saing industri. Pemanfaatan teknologi seperti machine learning, Internet of Things (IoT), dan otomasi terus diperluas untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Untuk mendukung transformasi ini, pemerintah memperkuat program pengembangan sumber daya manusia, termasuk kolaborasi dengan dunia usaha. Dalam tiga tahun ke depan, sekitar 15 ribu talenta spesialis di bidang AI dan semikonduktor ditargetkan dapat dibentuk sebagai persiapan menghadapi tantangan industri masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya