Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Siap Terapkan B50, Tapi Tantangan Distribusi dan Teknologi Belum Teratasi

Penerapan biodiesel B50 di Indonesia telah memenuhi aspek teknis kendaraan, namun kendala distribusi dan desain mesin masih menjadi penghambat utama.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 15.22 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 7x dibuka
Indonesia Siap Terapkan B50, Tapi Tantangan Distribusi dan Teknologi Belum Teratasi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Penerapan biodiesel B50 berbasis sawit di Indonesia telah menunjukkan kesiapan dari sisi teknis mesin, sebagaimana hasil uji coba yang dilakukan oleh Kementerian ESDM melalui unit migas. Namun, tantangan nyata muncul dari proses distribusi hingga ke konsumen akhir, yang belum dikelola secara optimal. Guru Besar Universitas Pertamina, Iman Kartolaksono Reksowardojo, menekankan bahwa meski mesin kendaraan sudah diuji dan terbukti mampu menangani B50, masalah muncul ketika bahan bakar berinteraksi dengan lingkungan selama penyimpanan dan transportasi.

Sifat higroskopis biodiesel—kemampuan menyerap kelembapan dari udara—menjadi faktor krusial yang dapat merusak kualitas bahan bakar jika tidak ditangani dengan benar. Ketika terjadi penyerapan air, kualitas dan performa bahan bakar menurun, berdampak langsung pada efisiensi mesin dan potensi kerusakan komponen. Meski demikian, sifat ini juga memberikan keunggulan lingkungan, karena biodiesel bersifat biodegradable, sehingga jika terjadi kebocoran atau tumpahan, dampaknya jauh lebih rendah dibanding bahan bakar fosil.

Iman menyoroti perbedaan desain mesin kendaraan yang mayoritas dibuat berdasarkan standar bahan bakar fosil, terutama karena 90 persen kendaraan di Indonesia dirancang oleh produsen Jepang. Desain yang tidak mempertimbangkan karakteristik biodiesel B50 berkontribusi pada ketidaknyamanan penggunaan dan keraguan terhadap kesiapan infrastruktur. Ia menekankan perlunya komitmen bersama dari produsen mesin, pelaku industri bahan bakar, dan konsumen untuk menetapkan standar kompromi teknis yang mendukung transisi.

Sebagai negara pertama di dunia yang berencana menerapkan B50 secara nasional, Indonesia tidak memiliki rujukan global yang bisa dijadikan acuan. Oleh karena itu, Iman menekankan pentingnya keberanian dan kemandirian dalam menghadapi tantangan ini. Jika distribusi dan integrasi teknologi dapat diperbaiki, penerapan B50 tidak hanya akan memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi contoh dalam transformasi energi berkelanjutan secara global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya