Rabu, 30 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Infeksi Menyebabkan 2,3 Juta Kasus Kanker Baru Tahun Ini

Studi global menunjukkan lima infeksi utama, termasuk HPV dan hepatitis B, berkontribusi terhadap 2,3 juta kasus kanker baru pada 2024, dengan pencegahan menjadi kunci utama pengendalian.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 30 September 2026, 21.08 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Infeksi Menyebabkan 2,3 Juta Kasus Kanker Baru Tahun Ini📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Infeksi menempati posisi krusial dalam epidemiologi kanker global, dengan lima patogen utama dikaitkan langsung dengan 2,3 juta kasus baru pada tahun 2024. Temuan ini menegaskan bahwa sejumlah infeksi bakteri dan virus bukan hanya menyebabkan penyakit akut, tetapi juga menjadi pemicu kanker jangka panjang. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Oncology menyoroti bahwa sekitar 12 persen dari seluruh kasus kanker yang terdiagnosis berasal dari infeksi, menekankan perlunya pendekatan pencegahan yang lebih strategis.

Di antara lima agen infeksi yang paling berpengaruh, Helicobacter pylori menyumbang 760 ribu kasus, terutama kanker lambung dan usus dua belas jari. Virus papiloma manusia (HPV) berkontribusi pada 4 persen kasus kanker baru, terutama kanker serviks, sementara virus hepatitis B (HBV) terkait dengan 2 persen kasus, sebagian besar kanker hati. Virus Epstein-Barr (EBV) dan hepatitis C (HCV) masing-masing berkontribusi sekitar 1 persen dan kurang dari 1 persen terhadap beban kanker global.

Peneliti menekankan bahwa intervensi yang sudah tersedia—seperti vaksinasi, skrining dini, pengobatan, dan praktik medis steril—dapat secara signifikan mengurangi risiko kanker akibat infeksi. Vaksin HPV dan hepatitis B telah terbukti efektif dalam menurunkan insiden kanker terkait. Namun, akses terhadap intervensi tersebut masih terbatas, terutama di wilayah berpenghasilan rendah dan menengah.

Tiga perempat dari total kasus kanker yang terkait infeksi berasal dari negara-negara berkembang, terutama di Asia Timur, Afrika sub-Sahara, dan Asia Tenggara. Ketimpangan akses terhadap vaksin, layanan kesehatan, dan edukasi medis menjadi penghambat utama dalam pengendalian penyakit. Dengan strategi pencegahan yang terintegrasi dan adopsi kebijakan kesehatan berbasis bukti, dampak infeksi sebagai penyebab kanker bisa dikurangi secara signifikan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya