Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Inflasi Terkendali, Manufaktur Ekspansi, Neraca Perdagangan Surplus

Ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan kuat di September 2026 dengan inflasi terjaga, manufaktur kembali ekspansi, dan surplus perdagangan meningkat signifikan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 17.50 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Inflasi Terkendali, Manufaktur Ekspansi, Neraca Perdagangan Surplus📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indikator ekonomi nasional pada September 2026 mencatat perkembangan positif, menunjukkan kinerja yang stabil di tengah tantangan global. Inflasi tahunan tercatat sebesar 3,28 persen, berada dalam target yang ditetapkan pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Inflasi inti berada pada level 2,84 persen, sementara inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,25 persen. Meski demikian, tekanan dari kelompok volatile food tetap menjadi perhatian, dengan inflasi mencapai 5,03 persen akibat gangguan produksi akibat cuaca ekstrem dan bencana alam.

Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat menjelang akhir tahun. Ini mencakup penyaluran tahap III Program Keluarga Harapan (PKH), distribusi bantuan pangan beras 10 kilogram per bulan dari Oktober hingga Desember, serta percepatan operasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium oleh Perum Bulog. Koordinasi antar daerah, Gerakan Pangan Murah, dan cadangan beras pemerintah diperkuat untuk menjamin pasokan. Upaya penurunan biaya logistik dan pencegahan inflasi impor juga dilakukan, termasuk penerapan bea masuk nol persen untuk LPG industri dan suku cadang pesawat.

Di sektor eksternal, neraca perdagangan mencatat surplus kumulatif sebesar US$7,25 miliar hingga Agustus 2026, didorong oleh surplus nonmigas sebesar US$28,54 miliar, meski masih terdapat defisit migas sebesar US$21,29 miliar. Pada Agustus saja, surplus mencapai US$3,55 miliar—meningkat drastis dibandingkan surplus US$120 juta bulan sebelumnya. Penurunan defisit migas sejak Juni terkait dengan implementasi program biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026. Ekspor nonmigas tumbuh, dengan besi dan baja mencapai US$19,18 miliar (naik 4,88 persen), CPO dan turunannya US$17,75 miliar (naik 6,57 persen), serta batu bara US$16,58 miliar (tumbuh 4,31 persen).

Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2026 mencapai 52,4, naik dari 49,8 bulan sebelumnya, menandakan kembali masuknya sektor manufaktur ke zona ekspansi—yang terkuat sejak Februari 2026. Peningkatan pesanan baru dan produksi, didukung oleh ekspor yang tumbuh dua bulan berturut-turut, serta masuknya proyek baru, mendorong kenaikan aktivitas. Inflasi harga input dan output turun ke level terendah dalam enam bulan, sementara keyakinan pelaku usaha terhadap prospek produksi 12 bulan ke depan tetap tinggi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Dengan inflasi terkendali, surplus perdagangan berlanjut, dan manufaktur kembali ekspansi, pemerintah menilai fondasi ekonomi nasional tetap kokoh. Langkah selanjutnya mencakup sinergi kebijakan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi, serta meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk dalam negeri.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya