Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Inggris Pertimbangkan Tarif untuk Mobil Listrik China

Lonjakan penjualan mobil listrik asal China di Inggris mendorong pemerintah mempertimbangkan penerapan tarif, mengikuti Uni Eropa demi melindungi industri lokal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Inggris Pertimbangkan Tarif untuk Mobil Listrik China📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Permintaan terhadap kendaraan listrik dari produsen China di pasar Inggris terus meroket, menunjukkan dominasi yang signifikan dalam lima bulan terakhir. Pada bulan September saja, hampir 25 persen dari total penjualan mobil baru berasal dari China, menandai keberhasilan merek-merek seperti Jaecoo 7 yang menduduki posisi teratas sekaligus melampaui penjualan Tesla Model 3. Kenaikan ini mencerminkan pergeseran preferensi konsumen terhadap produk dengan harga kompetitif dan fitur yang menarik.

Kemajuan pasar tersebut kini menghadapi ancaman kebijakan baru. Sumber internal menyebut bahwa Inggris sedang meninjau kemungkinan penerapan tarif terhadap mobil listrik asal China, sejalan dengan langkah Uni Eropa yang telah menerapkan tarif hingga 45 persen. Ancaman utama datang dari skema “Made in Europe”, yang jika diabaikan, berpotensi membuat produsen mobil Inggris kehilangan akses ke pasar Eropa dengan biaya tinggi. Menteri Bisnis Jonathan Reynolds telah memulai penyusunan paket kebijakan sebelum pertemuan tingkat tinggi dengan Uni Eropa bulan depan.

Jaecoo 7 menjadi simbol dominasi China di Inggris, dengan penjualan mencapai 10.812 unit pada September—angka tertinggi sepanjang tahun. Mobil tersebut tersedia dalam dua varian, mesin bensin turbo 1,6 liter dan plug-in hybrid (PHEV) 1,5 liter, menunjukkan strategi pemasaran yang efektif menggabungkan efisiensi dan kenyamanan. Meski belum ada keputusan akhir, pemerintah Inggris tampaknya mulai mempertimbangkan ekspansi cakupan tarif hingga melibatkan kendaraan hybrid, seiring dengan tren di Uni Eropa yang menekan ekspansi merek China di sektor kendaraan listrik.

Pihak industri juga turut mengamati perkembangan ini. Asosiasi Produsen Otomotif Inggris (SMMT) menyatakan bahwa ketidakpatuhan terhadap aturan “Made in Europe” dapat mengancam daya saing sektor otomotif lokal. Dengan begitu, keputusan Inggris akan menjadi penentu arah kebijakan industri di masa depan. Jika memilih mengikuti Uni Eropa, maka ketergantungan pasar terhadap mobil China bisa berkurang secara signifikan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya