Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Investasi Semester I-2026 Tembus Rp1.010,6 Triliun, Hilirisasi Jadi Pilar Ekonomi

Pemerintah memperkuat hilirisasi, industrialisasi, dan kemandirian energi sebagai fondasi transformasi ekonomi nasional di tahun kedua kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 32x dibuka
Investasi Semester I-2026 Tembus Rp1.010,6 Triliun, Hilirisasi Jadi Pilar Ekonomi📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan investasi nasional pada semester pertama tahun 2026 mencatatkan angka Rp1.010,6 triliun, menunjukkan kenaikan sebesar 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan strategis yang dijalankan pemerintah mulai menunjukkan dampak positif terhadap perekonomian. Fokus utama tetap diberikan pada transformasi sektor ekonomi melalui pengembangan industri pengolahan, terutama di sektor sumber daya alam, guna meningkatkan nilai tambah dan memperluas lapangan kerja.

Dalam konteks tersebut, hilirisasi menjadi instrumen kunci untuk mendorong kemandirian industri dan memperkuat daya saing produk lokal di pasar global. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, menegaskan bahwa capaian investasi ini tidak hanya mencerminkan volume, tetapi juga menunjukkan keberlanjutan program yang telah dijalankan sejak awal pemerintahan. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa manfaat dari proyek-proyek besar dirasakan secara luas oleh masyarakat lokal.

Pengembangan industri pengolahan khususnya di wilayah Maluku Utara menjadi contoh konkret dari transformasi yang terjadi. Wilayah ini kini mulai menempati posisi penting sebagai pusat industri nasional, dengan produksi feronikel, nickel matte, MHP, nickel sulfate, hingga kobalt yang semakin berkembang. Perkembangan ini melanjutkan tren yang telah dimulai sebelumnya di Morowali, Sulawesi Tengah, sebagai pusat pengolahan nikel terbesar di Indonesia.

Todotua menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi harus dinilai bukan hanya dari nilai investasi atau kapasitas produksi, tetapi juga dari dampak sosial ekonomi yang dihasilkan. Pemerintah mendorong keterlibatan pelaku usaha lokal, penyerapan tenaga kerja domestik, serta keberlanjutan lingkungan sebagai indikator utama keberhasilan program. Tujuan akhirnya adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat secara luas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya