Investasi Semester I-2026 Tembus Rp1.010,6 Triliun, Hilirisasi Jadi Pilar Ekonomi
Pemerintah memperkuat hilirisasi, industrialisasi, dan kemandirian energi sebagai fondasi transformasi ekonomi nasional di tahun kedua kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 32x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Pertumbuhan investasi nasional pada semester pertama tahun 2026 mencatatkan angka Rp1.010,6 triliun, menunjukkan kenaikan sebesar 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan strategis yang dijalankan pemerintah mulai menunjukkan dampak positif terhadap perekonomian. Fokus utama tetap diberikan pada transformasi sektor ekonomi melalui pengembangan industri pengolahan, terutama di sektor sumber daya alam, guna meningkatkan nilai tambah dan memperluas lapangan kerja.
Dalam konteks tersebut, hilirisasi menjadi instrumen kunci untuk mendorong kemandirian industri dan memperkuat daya saing produk lokal di pasar global. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, menegaskan bahwa capaian investasi ini tidak hanya mencerminkan volume, tetapi juga menunjukkan keberlanjutan program yang telah dijalankan sejak awal pemerintahan. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa manfaat dari proyek-proyek besar dirasakan secara luas oleh masyarakat lokal.
Pengembangan industri pengolahan khususnya di wilayah Maluku Utara menjadi contoh konkret dari transformasi yang terjadi. Wilayah ini kini mulai menempati posisi penting sebagai pusat industri nasional, dengan produksi feronikel, nickel matte, MHP, nickel sulfate, hingga kobalt yang semakin berkembang. Perkembangan ini melanjutkan tren yang telah dimulai sebelumnya di Morowali, Sulawesi Tengah, sebagai pusat pengolahan nikel terbesar di Indonesia.
Todotua menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi harus dinilai bukan hanya dari nilai investasi atau kapasitas produksi, tetapi juga dari dampak sosial ekonomi yang dihasilkan. Pemerintah mendorong keterlibatan pelaku usaha lokal, penyerapan tenaga kerja domestik, serta keberlanjutan lingkungan sebagai indikator utama keberhasilan program. Tujuan akhirnya adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat secara luas.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Rantai Pasok Tangguh Kunci Optimalisasi Nilai Mineral Kritis
Investasi terkoordinasi dan rantai pasok yang kuat menjadi kunci utama untuk mengeksploitasi nilai tambah tinggi dari mineral kritis di Indonesia.
24 Oktober 2026

Antam Siap Kelola Tambang Emas Baru di Papua
Pemerintah menutup operasional tambang emas PT Kristalin Eka Lestari di Nabire dan menyerahkan kawasan seluas 275,36 hektare kepada PT Aneka Tambang Tbk untuk pengelolaan berkelanjutan.
24 Oktober 2026

ANTAM Perkuat Fondasi Bisnis untuk Nilai Tambah Jangka Panjang
Perusahaan tambang nasional mencatatkan pertumbuhan signifikan di semester pertama 2026, dengan pendapatan Rp62,71 triliun dan laba naik 34%, seiring fokus pada hilirisasi dan optimalisasi operasional.
24 Oktober 2026

Bahlil Usung PNBP Batu Bara Rp165 T untuk Tutup Defisit BBM
Menteri ESDM membidik penerimaan negara bukan pajak dari batu bara tembus Rp165 triliun pada 2026, lebih tinggi dari target APBN, demi menopang defisit subsidi BBM.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

