Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Investor Global Perluas Lumbung Modal di Manajemen Aset RI

Minat investor asing terhadap sektor pengelolaan aset dan kekayaan di Indonesia terus meningkat, didorong pertumbuhan pasar dan potensi ekspansi bisnis meski IHSG turun hampir 30% sepanjang 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 12.20 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Investor Global Perluas Lumbung Modal di Manajemen Aset RI📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan pesat dalam jumlah investor pasar modal dan dana kelolaan yang melampaui Rp1.000 triliun hingga September 2026 menjadi daya tarik utama bagi investor global. Di tengah koreksi IHSG hampir 30% sepanjang tahun ini, sejumlah perusahaan manajemen aset asing justru mempercepat ekspansi di Tanah Air, termasuk melalui akuisisi dan kemitraan strategis di bidang wealth management dan aset syariah.

Transaksi strategis seperti pengambilalihan bisnis oleh Manulife Wealth & Asset Management dari Schroders Indonesia, serta perluasan kehadiran OCBC melalui akuisisi layanan Premier Banking HSBC Indonesia, menunjukkan intensifikasi kehadiran kapital asing. Laporan Ernst & Young mencatat lonjakan aktivitas di Asia Tenggara, dengan delapan transaksi wealth dan asset management pada semester pertama 2026, naik signifikan dari tiga transaksi di periode yang sama tahun sebelumnya, dengan nilai mencapai US$145 juta.

Indonesia menjadi fokus utama, didorong oleh meningkatnya jumlah masyarakat berpenghasilan tinggi dan permintaan terhadap produk keuangan berbasis syariah. BlueFive Capital dari Abu Dhabi baru saja menanamkan investasi strategis di Majoris Asset Management melalui platform syariah BlueFive786, sekaligus memperkuat aliansi dengan Sriwijaya Capital yang menjadi jembatan investasi Timur Tengah ke pasar Asia Tenggara.

San Verandy Herveranto, Direktur Utama Majoris Asset Management, menegaskan bahwa minat global terhadap sektor aset mencerminkan optimisme terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Ia menekankan pentingnya tata kelola dan pengelolaan risiko yang kuat agar kepercayaan investor tetap terjaga, terlebih dalam pengembangan produk syariah yang berkelanjutan.

Andrey Wijaya, Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, menilai koreksi IHSG bisa menjadi peluang masuk bagi investor strategis, terutama dalam bentuk merger dan akuisisi. Namun, ia menekankan bahwa seleksi bisnis tetap harus ketat—fokus pada kualitas operasional, prospek laba, dan kesesuaian harga transaksi. Ia menilai peluang pemulihan akan lebih kuat jika nilai tukar rupiah stabil dan arah kebijakan pemerintah jelas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya