Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Istana Kuno Ethiopia Diduga Pencakar Langit 2.800 Tahun Lalu

Penelitian terbaru mengungkap kemungkinan istana kuno di Yeha, Ethiopia, pernah mencapai ketinggian hingga 19 lantai, berdasarkan simulasi struktural dan temuan arkeologis.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 12.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Istana Kuno Ethiopia Diduga Pencakar Langit 2.800 Tahun Lalu📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sebuah penelitian terbaru mengungkap potensi struktur istana kuno di Yeha, Ethiopia utara, sebagai salah satu bangunan tertinggi di dunia pada abad ke-8 SM. Bangunan yang dikenal sebagai Grat Be'al Gibri atau Grat Be'al Geubri diduga dibangun sekitar 800 tahun sebelum masehi, sejalan dengan masa kejayaan peradaban Yunani kuno dan awal munculnya alfabet. Meski kini hanya tersisa reruntuhan tangga berbatu dan sisa pilar, analisis arkeologis menunjukkan bahwa bangunan ini memiliki luas area sekitar 60 meter kali 60 meter, menjadikannya kompleks istana terbesar di Afrika Timur pada masa itu.

Pengukuran pilar masuk utama yang diperkirakan mencapai ketinggian 10 meter, bersama dengan sisa tangga dan struktur dasar, menunjukkan kemungkinan adanya setidaknya tiga lantai bertingkat. Namun, tinggi maksimal bangunan tetap tidak pasti karena sebagian besar struktur telah hancur akibat kebakaran zaman dahulu. Catatan sejarah dari sumber Arab menyebutkan adanya bangunan tinggi hingga 20 lantai di kawasan Afrika Timur, sementara lukisan batu dari Arab Selatan menggambarkan kompleks dengan setidaknya sembilan lantai, menunjukkan kemungkinan kemajuan arsitektur yang tinggi di wilayah tersebut.

Tim peneliti dari Jerman menggunakan data pengukuran reruntuhan untuk menyusun model rekonstruksi tiga dimensi. Dalam simulasi berbasis material kayu dan batu, mereka menemukan bahwa struktur tersebut mampu menopang beban hingga 19 lantai dalam kondisi optimal. Bahkan dalam skenario terburuk, bangunan tetap dapat bertahan hingga 16 lantai. Hasil ini didasarkan pada teknik konstruksi unik yang menggabungkan batu kasar dengan balok kayu yang ditempatkan secara mendatar di dalam susunan batu—sejenis metode yang disebut "timber-laced masonry", ditemukan pula di wilayah Arab Selatan dan Afrika Timur pada periode serupa.

Meskipun hasil simulasi menunjukkan potensi tinggi, belum ada bukti pasti bahwa arsitek Yeha benar-benar membangun hingga ketinggian maksimal. Namun, temuan ini memperkuat posisi Grat Be'al Gibri sebagai kandidat kuat untuk masuk dalam daftar warisan dunia sementara UNESCO. Keberadaan struktur ini menunjukkan kemampuan teknis dan kreativitas arsitektur yang luar biasa pada peradaban kuno, serta menegaskan kedudukan Ethiopia sebagai salah satu pusat peradaban tertua yang masih eksis hingga kini.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya