Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Jasa Anotasi Buku Meningkat, Tawarkan Solusi bagi yang Tak Punya Waktu

Layanan anotasi buku kini berkembang pesat di kalangan pelajar dan profesional yang ingin tampil sebagai pembaca aktif tanpa perlu membaca sendiri.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 12.07 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 45x dibuka
Jasa Anotasi Buku Meningkat, Tawarkan Solusi bagi yang Tak Punya Waktu📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah tekanan waktu dan beban akademik yang tinggi, sejumlah individu mulai memanfaatkan jasa anotasi buku sebagai solusi praktis. Layanan ini memungkinkan pelanggan mengirimkan buku—baik berbahasa Indonesia maupun Inggris, fiksi maupun nonfiksi—yang kemudian dibaca secara menyeluruh dan diberi tanda penting, catatan, serta penanda warna oleh penyedia jasa. Hasilnya bukan hanya buku yang sudah dianotasi, tetapi juga konten visual seperti foto atau video sebagai bukti keaktifan membaca.

Salah satu pelaku layanan adalah Tia (21), mahasiswa asal Bekasi, yang memulai usaha ini setelah melihat trennya ramai dibicarakan di platform media sosial. Ia menyebut minatnya bermula dari kecintaan terhadap membaca, bukan semata dari peluang ekonomi. Meski sebelumnya sempat melihat layanan serupa dengan biaya hingga jutaan rupiah, Tia memilih menawarkan harga yang lebih terjangkau agar bisa diakses lebih luas.

Layanan yang ditawarkan mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari anotasi bagian penting dengan stabilo, penulisan catatan langsung di halaman, hingga penggunaan sticky notes. Kecepatan layanan reguler mencapai sekitar 100 halaman per hari, dengan opsi kilat untuk permintaan mendesak. Tarifnya bervariasi: Rp90 ribu untuk buku 100–200 halaman, dan Rp75 ribu per 100 halaman untuk buku 601–800 halaman, dengan tambahan Rp25 ribu per 100 halaman jika buku berbahasa Inggris.

Pelanggan yang menggunakan jasa ini bervariasi, mulai dari mahasiswa yang kesulitan menyelesaikan tugas kuliah karena sibuk organisasi, hingga individu yang ingin membangun citra sebagai pencinta buku di media sosial. Beberapa juga memanfaatkan hasil anotasi untuk keperluan konten seperti Bookstagram atau sekadar menunjukkan aktivitas membaca dalam bentuk visual. Tia menyebut bahwa kebutuhan akan layanan ini tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga personal dan sosial.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya