Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kapal Singapura Tenggelam Usai Tabrak Ranjau di Selat Hormuz

Kapal kontainer Singapura, GFS Pride, tenggelam setelah menabrak ranjau di Selat Hormuz, dengan seluruh awak selamat, sementara kapal lainnya mengalami kerusakan serupa dalam insiden beruntun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 12.05 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 32x dibuka
Kapal Singapura Tenggelam Usai Tabrak Ranjau di Selat Hormuz📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Kapal kontainer GFS Pride, yang terdaftar di Singapura, tenggelam di Selat Hormuz pada Rabu (14/10/2026) setelah menabrak ranjau militer. Insiden terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan, dengan lebih dari 20 kapal tanker dan kendaraan maritim lainnya dilaporkan mengalami serangan sepanjang bulan ini. Kejadian tersebut memperparah kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran internasional di jalur strategis tersebut.

Sebelum tenggelam, kapal mengalami kebakaran hebat yang menyebabkan asap tebal mengepul dari lambungnya. Foto dan rekaman video yang tersebar di media sosial menunjukkan kapal miring di permukaan laut, dengan puluhan kontainer terapung dan terhempas akibat ledakan. Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura menyatakan bahwa seluruh awak, jumlahnya 21 orang, berhasil diselamatkan tanpa ada korban jiwa.

Pada hari yang sama, kapal lain milik Singapura, GFS Giselle, juga menjadi sasaran serangan di lokasi yang sama, mengalami kerusakan pada lambung namun mampu melanjutkan perjalanan dengan tenaga sendiri. Tidak ada laporan cedera pada awak kapal kedua tersebut. Kedua insiden terjadi dalam rentang waktu yang dekat, menunjukkan potensi adanya aktivitas militer atau sabotase terorganisir di sekitar Selat Hormuz.

Insiden ini muncul di tengah upaya perundingan yang mandek antara Amerika Serikat dan Iran, yang telah memicu ketegangan regional sejak awal tahun. Kedua negara tetap bersikeras pada posisi masing-masing, tanpa adanya kompromi signifikan dalam penyelesaian isu keamanan maritim. Kini, masyarakat internasional memperhatikan dengan cermat perkembangan situasi di Selat Hormuz sebagai indikator krisis energi global yang semakin memburuk.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya