Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Karang Taruna Kolaka Ajak Generasi Muda Lestarikan Bahasa Tolaki

Lomba pidato dan puisi bahasa Tolaki digelar Karang Taruna Kolaka untuk memperkuat identitas budaya dan melestarikan warisan leluhur di kalangan generasi muda.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 17.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Kabupaten Kolaka bersinergi dengan Karang Taruna setempat dalam upaya melestarikan bahasa daerah melalui even kultural yang melibatkan pelajar dan pemuda. Kegiatan bertajuk Lomba Pidato dan Puisi Bahasa Tolaki digelar sebagai bentuk konkret dari komitmen menjaga keberagaman budaya di Sulawesi Tenggara. Acara ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai sekolah menengah dan perguruan tinggi di wilayah Kolaka dan sekitarnya.

Lomba yang berlangsung selama dua hari ini menekankan pentingnya bahasa Tolaki sebagai alat identitas dan penjaga nilai-nilai luhur leluhur. Setiap peserta diminta menyampaikan pidato atau puisi dalam bahasa Tolaki, dengan tema utama "Warisan Leluhur, Masa Depan Kita". Penilaian dilakukan oleh dewan juri dari akademisi, budayawan lokal, dan tokoh masyarakat yang memiliki kompetensi dalam bahasa dan sastra daerah.

Ketua Panitia, Andi Muh. Arif, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan ajakan kolektif untuk menghidupkan bahasa Tolaki yang kian tergerus oleh dominasi bahasa nasional. "Kami ingin menunjukkan bahwa bahasa Tolaki bukan hanya milik orang tua, tetapi juga milik anak muda yang memiliki peran penting dalam pelestariannya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa peserta yang berprestasi akan mendapatkan hadiah dan sertifikat penghargaan sebagai bentuk apresiasi.

Tujuan utama dari lomba ini adalah membangun kesadaran kolektif bahwa bahasa daerah adalah bagian integral dari kebangsaan Indonesia. Dengan melibatkan generasi muda, diharapkan muncul kembali minat untuk mempelajari, menggunakan, dan mengembangkan bahasa Tolaki dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, warisan budaya leluhur tidak hanya terjaga, tetapi juga menjadi fondasi keberagaman yang kokoh di tengah modernisasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya