Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kasus Pertama Infeksi Virus Shamonda pada Manusia Dilaporkan di Prancis

Virus Shamonda, yang sebelumnya hanya menyerang hewan ternak, kini terdeteksi menginfeksi manusia di Prancis, menyebabkan komplikasi neurologis dan kematian pada awal Oktober 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 09.03 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 23x dibuka
Kasus Pertama Infeksi Virus Shamonda pada Manusia Dilaporkan di Prancis📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang pasien di Prancis bagian timur meninggal dunia pada awal Oktober 2026 setelah mengalami gejala neurologis yang parah, yang kini diduga erat kaitannya dengan infeksi virus Shamonda. Pasien tersebut memiliki riwayat gangguan imunologis berat dan dirawat di rumah sakit khusus di Lyon. Otoritas kesehatan setempat menyatakan bahwa meski belum ada bukti kuat kausalitas, infeksi virus tersebut sangat mungkin menjadi penyebab utama komplikasi kritis yang berujung pada kematian.

Virus Shamonda, termasuk dalam kelompok orthobunyavirus, pertama kali ditemukan di Nigeria pada pertengahan 1960-an dan sejak itu dilaporkan muncul secara sporadis di Afrika dan Asia, termasuk Jepang. Pada musim panas 2026, virus ini terdeteksi menyebar di Prancis, Jerman, dan Swiss. Deteksi terhadap sapi di Jersey, Inggris, pada Agustus 2026, menunjukkan penyebaran virus di Eropa sebelum kasus manusia dilaporkan.

Kemungkinan penularan virus ke manusia terjadi melalui gigitan lalat Culicoides, serangga penggigit kecil yang menjadi vektor utama. Wilayah Prancis timur, yang menjadi area endemik bagi virus pada hewan selama musim panas, diduga sebagai lokasi paparan utama. Gejala yang muncul pada pasien, seperti gangguan saraf, menunjukkan kesamaan dengan infeksi virus orthobunyavirus lain, seperti Oropouche, meski kasus Shamonda pada manusia ini merupakan yang pertama kali dilaporkan secara global.

Pada hewan, virus ini menyebabkan demam, diare, kelesuan, dan penurunan produksi susu pada sapi. Infeksi pada hewan hamil dapat menyebabkan keguguran atau kelainan janin, serupa dengan dampak virus Schmallenberg. Virus juga terdeteksi pada domba, kambing, kuda, dan alpaka di Eropa. Di Jerman dan Swiss, beberapa kuda yang mengalami gangguan saraf juga sedang dalam penyelidikan terkait kemungkinan kaitan dengan virus ini.

Tidak ada bukti penularan langsung antarmanusia atau melalui konsumsi daging, susu, atau produk olahan hewan. Namun, produk dari hewan sakit dilarang dikonsumsi. Hingga kini, belum ada vaksin atau obat khusus untuk virus Shamonda. Pencegahan berfokus pada pengendalian populasi lalat dengan menghilangkan genangan air dan kotoran basah, serta pengawasan ketat terhadap hewan yang dibawa ke daerah baru. Prancis telah melaporkan kasus ini ke WHO dan ECDC untuk kolaborasi penelitian lintas negara.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya