Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kasus Pertama Shamonda pada Manusia di Prancis, Pasien Meninggal

Prancis melaporkan kasus pertama infeksi virus Shamonda pada manusia yang berujung pada kematian pasien berusia 60-an tahun, diduga akibat gigitan agas di wilayah timur negara itu.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 17.35 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 32x dibuka
Kasus Pertama Shamonda pada Manusia di Prancis, Pasien Meninggal📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Prancis mengonfirmasi adanya kasus pertama infeksi virus Shamonda pada manusia, yang berakhir dengan kematian seorang pasien laki-laki berusia 60-an tahun. Pasien dirawat di rumah sakit Lyon karena kondisi kesehatan parah yang tidak terkait langsung dengan infeksi virus, namun hasil pemeriksaan menunjukkan kaitan dengan virus yang sebelumnya hanya diketahui menyerang hewan. Kematian ini menjadi peristiwa langka dalam sejarah virologi global, karena virus ini belum pernah terdeteksi pada manusia sebelumnya.

Menurut otoritas kesehatan setempat, penularan diduga berasal dari gigitan agas — serangga kecil berwarna abu-abu — yang membawa virus di wilayah timur Prancis. Penyebaran virus telah tercatat di antara hewan ternak sejak musim panas tahun ini, terutama pada sapi, domba, kambing, kuda, dan alpaka. Meski demikian, belum ada bukti penularan antarmanusia atau dari sapi ke manusia hingga saat ini.

Kepala Direktorat Kesehatan Prancis, Gregory Emery, menegaskan bahwa kasus ini merupakan kejadian luar biasa yang terkait dengan kekebalan tubuh pasien yang sangat rendah. Ia menekankan bahwa tidak ada ancaman kesehatan masyarakat secara luas, serta tidak ada kebutuhan untuk pemberian peringatan atau respons darurat. Penyelidikan masih berlangsung untuk memahami mekanisme penularan dari serangga ke manusia.

Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian Prancis menyatakan secara bersama bahwa tidak ada risiko signifikan bagi populasi umum. Virus Shamonda, yang pertama kali ditemukan di Nigeria pada pertengahan 1960-an, sebelumnya hanya diketahui menyerang hewan di Afrika dan Asia. Sejak Juli 2026, virus ini telah terdeteksi di 14 negara Eropa Barat, termasuk Prancis, dengan fokus utama pada peternakan sapi. Hingga kini, belum ada vaksin komersial yang tersedia untuk melindungi terhadap infeksi ini.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya