Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Keracunan Massal Siswa Akibat Makanan MBG di Konsel

Ratusan siswa di Kecamatan Angata, Konawe Selatan, mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis, menyebabkan sejumlah anak dirawat di Puskesmas.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 15.20 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 22x dibuka
Keracunan Massal Siswa Akibat Makanan MBG di Konsel📷 MediaKendari

Kendari, ıNarasikita - Peristiwa kritis terjadi di Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, pada Selasa (13/10/2026), ketika sejumlah siswa dari SMA Negeri 10 dan dua sekolah dasar mengalami gangguan kesehatan akut setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Gejala yang muncul meliputi sakit perut hebat, mual, pusing, dan diare berulang, yang menyebar luas di kalangan peserta didik dalam waktu singkat. Beberapa anak bahkan harus dilarikan ke Puskesmas Angata untuk mendapatkan penanganan medis mendesak.

Kepala SMA Negeri 10 Konsel, yang enggan disebutkan namanya, mengonfirmasi adanya laporan dari orang tua siswa yang menyatakan anak-anak mereka mengalami kondisi serupa sejak pulang dari sekolah. “Anak-anak mulai mengeluh pusing kemarin sore. Hari ini mereka terus-menerus ke toilet dan mengalami sakit perut yang tak kunjung reda,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Ia menegaskan bahwa pihak sekolah telah menolak penyaluran makanan MBG pada hari berikutnya sebagai upaya pencegahan lebih lanjut.

Dalam kondisi yang memprihatinkan, dua sekolah dasar di wilayah Angata melaporkan sejumlah siswa harus dirawat intensif karena diare akut yang tidak kunjung membaik. Kondisi ini memicu kekhawatiran luas terhadap kualitas dan keamanan pangan dalam program nasional yang seharusnya menunjang kesehatan anak-anak. Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe Selatan belum memberikan keterangan resmi terkait jumlah korban, hasil uji laboratorium, atau tindakan korektif yang dilakukan.

Kasus ini menyoroti kegagalan sistem pengawasan pangan di tingkat lokal, khususnya dalam proses pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan. Jika tidak segera ditangani secara transparan dan menyeluruh, program yang dimaksudkan untuk meningkatkan gizi anak bangsa berpotensi menjadi ancaman kesehatan massal. Masyarakat dan lembaga pengawas mendesak pemerintah daerah untuk segera membuka data, melaksanakan uji laboratorium, serta menanggung biaya perawatan korban.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya