Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kerajaan Gula Oei Tiong Ham Runtuh dalam Sehari

Perusahaan gula milik Oei Tiong Ham yang pernah dominan di Hindia Belanda hancur akibat penyitaan aset oleh negara pada 1961, yang kemudian menjadi dasar pendirian BUMN RNI.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 21.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kerajaan Gula Oei Tiong Ham Runtuh dalam Sehari📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Konglomerasi gula Oei Tiong Ham Concern (OTHC), yang berdiri sejak 1893 di Semarang, pernah menjadi kekuatan ekonomi global di era kolonial. Melalui jaringan produksi di India, Singapura, dan London, OTHC mampu mengekspor hingga 200 ribu ton gula pada 1911–1912, bahkan menguasai 60 persen pasar dalam negeri. Kekayaan yang dibangun dari bisnis ini mencapai 200 juta gulden, setara lebih dari Rp 43 triliun dalam nilai tukar modern.

Namun, kejayaan itu berakhir setelah kematian Oei Tiong Ham. Pada 1942, keluarga menyetorkan dana jutaan gulden ke De Javasche Bank—cikal bakal Bank Indonesia—untuk keperluan investasi. Setelah kemerdekaan, mereka menuntut pengembalian dana tersebut, yang dianggap sebagai warisan keluarga, karena pemerintah menggunakan uang itu untuk pembangunan pabrik gula. Pengadilan Belanda akhirnya memenangkan gugatan tersebut.

Keputusan itu justru menjadi titik balik. Pada 1961, pengadilan Semarang memanggil para pemegang saham Kian Gwan, anak perusahaan utama OTHC, atas tuduhan pelanggaran aturan valuta asing. Karena semua pewaris tinggal di luar negeri dan tidak hadir dalam sidang, pengadilan menganggap mereka bersalah secara otomatis.

Pada 10 Juli 1961, seluruh aset OTHC—termasuk tanah, pabrik, dan harta warisan—disita secara seketika oleh negara. Penyitaan yang berlangsung dalam waktu satu hari itu menghapus jejak bisnis yang telah berdiri selama lebih dari lima dekade. Aset yang disita kemudian menjadi modal dasar pendirian PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) pada 1964.

Kini, nama Oei Tiong Ham hanya tersisa dalam catatan sejarah ekonomi Indonesia. Kerajaan gula yang pernah menguasai pasar global pun lenyap, tinggal kenangan dari era kolonial yang berakhir dengan kebijakan nasionalisasi aset asing.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya