Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kerja Jarak Jauh Wajib di Riyadh Usai Serangan Houthi

Gedung Kingdom Centre di Riyadh mewajibkan karyawan bekerja dari rumah menyusul serangan milisi Houthi yang menewaskan 13 orang di bandara internasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 23.01 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 100x dibuka
Kerja Jarak Jauh Wajib di Riyadh Usai Serangan Houthi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Manajemen Kingdom Centre, gedung perkantoran utama di ibu kota Arab Saudi, mengeluarkan kebijakan mendadak dengan mewajibkan seluruh penyewa kantor untuk bekerja dari jarak jauh. Keputusan ini berlaku segera dan akan tetap berlaku hingga ada pemberitahuan lebih lanjut. Imbauan tersebut disampaikan melalui surat elektronik resmi yang menyebutkan larangan keras bagi karyawan untuk datang ke kantor selama masa berlaku kebijakan.

Keputusan ini diambil setelah serangan besar milisi Houthi terhadap Bandara Internasional Riyadh, yang menyebabkan 13 korban jiwa. Dalam waktu bersamaan, bandara tetap ditutup sementara, sementara sekolah-sekolah di wilayah tersebut juga beralih ke pembelajaran daring. Pusat perbelanjaan di bagian bawah gedung tetap beroperasi normal, namun aktivitas perkantoran di lantai atas ditiadakan sepenuhnya.

Beberapa institusi besar yang berlokasi di gedung tersebut termasuk Merrill Lynch, McKinsey, dan Dana Moneter Internasional (IMF), yang kini menyesuaikan operasional kerja karyawan sesuai kebijakan baru. Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan pula adanya serangan drone dan rudal balistik yang berhasil dicegat di wilayah Riyadh serta Provinsi Timur, yang kaya sumber daya minyak.

Konflik di Yaman kembali memanas setelah milisi Houthi melaporkan berhasil menembak jatuh helikopter Apache milik Arab Saudi di wilayah Najran. Pihak koalisi menyatakan kecelakaan disebabkan gangguan teknis, sementara Houthi menegaskan sebagai hasil serangan. Di sisi lain, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi telah meminta parlemen menggelar sidang darurat untuk mengevaluasi kemungkinan dukungan pertahanan kepada Arab Saudi.

Kepemimpinan Mesir menegaskan bahwa dukungan yang dimaksud bersifat pertahanan, bukan agresif, dan hanya akan dilakukan jika dipinta secara resmi oleh otoritas Arab Saudi. Hal ini menunjukkan eskalasi geopolitik yang melibatkan kawasan Laut Merah, jalur pelayaran strategis, serta ketegangan regional yang terus berdampak pada stabilitas ekonomi dan keamanan regional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya