Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

KFC Akhiri Kemitraan dengan Pepsi, Pilih Coca-Cola untuk Pasar AS

KFC memutuskan kemitraan minuman dengan PepsiCo setelah 40 tahun, beralih ke Coca-Cola untuk gerai di Amerika Serikat mulai musim semi 2027.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 09.26 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 46x dibuka
KFC Akhiri Kemitraan dengan Pepsi, Pilih Coca-Cola untuk Pasar AS📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - KFC secara resmi mengganti mitra penyedia minuman di pasar Amerika Serikat, menggantikan PepsiCo dengan Coca-Cola. Keputusan ini menandai berakhirnya kemitraan yang telah berlangsung selama empat dekade, sekaligus menjadi perubahan besar dalam strategi distribusi produk minuman di jaringan restoran cepat saji tersebut. KFC memiliki 3.718 gerai di AS, dan semua akan menyediakan produk Coca-Cola mulai musim semi 2027, sesuai jadwal yang telah disiapkan.

Peralihan ini pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal berdasarkan informasi dari sumber internal yang mengetahui rencana tersebut. Meskipun nilai kontrak baru belum diungkapkan, perubahan ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam hubungan bisnis antara KFC dan produsen minuman. PepsiCo tetap menjadi mitra untuk KFC secara internasional, sementara perpanjangan kerja sama untuk Taco Bell dilakukan hingga 2034.

PepsiCo sebelumnya menjadi mitra minuman KFC sejak akuisisi perusahaan oleh PepsiCo, meskipun KFC sendiri dilepas pada 1997. Sejak itu, PepsiCo tetap menjadi penyedia minuman utama bagi KFC di level global, termasuk untuk jaringan Subway dan Jersey Mike’s Subs. Sementara itu, Coca-Cola telah lama menjadi pemasok minuman utama bagi McDonald’s dan Wendy’s, yang memperkuat posisinya sebagai pemain dominan di sektor makanan cepat saji.

Keputusan KFC ini dinilai menjadi tekanan bagi PepsiCo, yang tengah menghadapi tantangan dalam mempertahankan pangsa pasar minuman soda di AS. Tekanan ini diperparah oleh tren konsumen yang beralih ke produk lebih sehat, kenaikan biaya produksi, serta tekanan dari investor aktivis Elliott Investment Management yang menuntut penjualan aset tidak efisien. Ramon Laguarta, CEO PepsiCo, sebelumnya menyatakan pemulihan kinerja di Amerika Utara akan memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan.

Pengamat pasar, Jay Woods dari Freedom Capital Markets, menganggap peralihan ini sebagai sinyal negatif terhadap kinerja PepsiCo, terutama dalam konteks persaingan dengan Coca-Cola yang tetap kuat di sektor makanan cepat saji. Keputusan KFC juga menunjukkan bahwa keberlanjutan kemitraan bisnis tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh sejarah, melainkan oleh efisiensi, tren pasar, dan strategi jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya