Korea Selatan Minta Maaf Ukraina Soal Pemindahan Tawanan Perang
Korea Selatan menyerukan permintaan maaf terbuka dari Ukraina atas pengungkapan identitas dua tawanan perang Korea Utara yang dipindahkan ke Seoul, dengan peringatan risiko balasan dari Pyongyang.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 17.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyatakan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan langkah lebih lanjut jika Ukraina tidak menunjukkan keinginan untuk meminta maaf secara terbuka atas kejadian yang dianggap mengganggu kebijakan diplomatik dan keamanan nasional. Pengungkapan identitas dua tentara Korea Utara yang ditangkap oleh pasukan Ukraina saat berperang mendukung Rusia menjadi titik kritis dalam tensi bilateral yang kini memasuki babak baru.
Kedua tawanan tersebut ditangkap pada awal tahun lalu saat dikerahkan bersama ribuan militer Korut untuk mendukung operasi militer Rusia di Ukraina, sebagai bagian dari kesepakatan imbalan bantuan ekonomi dan militer dari Moskow. Identitas mereka terungkap setelah media lokal Korea Selatan mempublikasikan foto mereka sebelum pemindahan ke Seoul, yang kemudian menjadi alasan utama ketegangan diplomatik.
Pihak Korea Selatan menekankan bahwa tindakan Ukraina telah membuka celah potensial bagi Pyongyang untuk menargetkan keluarga para tawanan sebagai bentuk balasan. Hal ini dikhawatirkan dapat memperburuk situasi keamanan regional dan mengancam stabilitas hubungan antara negara-negara yang terlibat dalam konflik global. Korea Selatan menilai bahwa pengungkapan informasi sensitif tanpa koordinasi telah melanggar prinsip kebijakan perlindungan hak asasi manusia dan keamanan kemanusiaan.
Pernyataan resmi dari Seoul menegaskan bahwa kebijakan terhadap tawanan perang harus dilakukan dengan hati-hati dan berdasarkan kesepakatan internasional. Mereka menyerukan kepada semua pihak terkait untuk memperhatikan implikasi jangka panjang dari tindakan yang dianggap sepihak, terutama dalam konteks yang melibatkan negara-negara yang memiliki sejarah konflik dan ketegangan politik yang kompleks.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Akses Internet Terbatas di Mentawai, Warga Terpaksa Tempuh Jalur Ekstrem
Warga Kepulauan Mentawai masih menghadapi keterbatasan akses internet, menyebabkan keterlambatan pesan hingga 7 jam dan ketergantungan pada layanan tidak resmi seperti Sikakap Online.
4 Oktober 2026

Siswa Prancis Demo Besar, Tuntut Peningkatan Kualitas Pendidikan
Ribuan pelajar di lebih dari 1.200 sekolah Prancis menggelar protes massal menuntut perbaikan fasilitas, penambahan guru, dan reformasi sistem pendidikan nasional.
4 Oktober 2026

Kandidat Unik Sumbang Gebrakan di Pemilu Brasil
Ratusan kandidat dengan identitas nyeleneh ikut meramaikan pemilu Brasil, menarik perhatian melalui nama dan penampilan mencolok seperti Trump, Obama, hingga badut sirkus.
4 Oktober 2026

Siswi 16 Tahun Ditemukan Tewas di Aula Sekolah, Tiga Pelaku Ditahan
Seorang siswi SMA berusia 16 tahun ditemukan tewas di aula sekolah di Yong Peng, Johor, dengan luka serius; tiga pelaku remaja ditangkap dan ditahan sementara, sementara pemerintah menegaskan komitmen menangani kasus dengan tegas.
4 Oktober 2026
Berita Lainnya

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru, Perkuat Kabinet Ekonomi
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.52 WITA

Prabowo Lantik Saleh Mustafa Jadi Wamentan, Isi Posisi Kosong Sejak Sudaryono Pindah
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.52 WITA

Aryanto Wibowo Dilantik Jadi Wakil Kepala BPKP
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.52 WITA

Pelantikan Dua Wamenkeu Baru Perkuat Kebijakan Fiskal
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.52 WITA

Saleh Mustafa Dilantik Jadi Wamentan dalam Reshuffle Kabinet
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.52 WITA

Dradjad Wibowo Resmi Jabat Wamenko Perekonomian
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.52 WITA

Irwan Meilano Jabat Wamen KKP, Dari Akademisi ITB ke Kabinet Prabowo
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.52 WITA

Rupiah Melemah ke Rp17.966 per Dolar AS pada Akhir Perdagangan Kamis
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.51 WITA

