Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kredit Perbankan RI Capai Pertumbuhan Tertinggi dalam Dekade

Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia mencapai 13,69% pada kuartal III-2026, menjadi yang tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir, didorong oleh kenaikan signifikan di sektor investasi dan modal kerja.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 17.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 16x dibuka
Kredit Perbankan RI Capai Pertumbuhan Tertinggi dalam Dekade📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan kredit perbankan nasional pada kuartal ketiga tahun 2026 mencatat angka 13,69%, menandai rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Angka ini diungkapkan oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam acara Rakornas Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah, yang digelar di JIEXPO Convention Centre. Ia menekankan bahwa capaian tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia meski menghadapi tekanan global seperti inflasi tinggi, suku bunga yang tidak stabil, dan ketegangan geopolitik.

Kenaikan kredit ini didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang juga berada di level dua digit, menunjukkan keseimbangan antara penyaluran dan akumulasi dana dalam sistem perbankan. Friderica menyatakan bahwa angka tersebut menjadi modal penting untuk mendorong aktivitas ekonomi secara menyeluruh, terutama di sektor riil yang mulai menunjukkan pemulihan. Ia menilai kondisi ini sebagai indikator positif atas kinerja sektor keuangan yang stabil dan berkelanjutan.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan kredit pada September 2026 mencapai 13,26% secara tahunan. Kenaikan ini didorong utama oleh kredit investasi yang tumbuh 23,2%, kredit modal kerja sebesar 11,89%, serta kredit konsumsi yang tumbuh 4,86%. Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro menjelaskan bahwa penyaluran kredit ke sektor swasta, khususnya industri dan konstruksi, menunjukkan tren positif. Ia menilai perbaikan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor dan aktivitas produksi di sektor riil.

Secara sektoral, sejumlah bidang mengalami pertumbuhan kredit yang kuat, seperti industri pengolahan (14,6%), pertambangan (15,1%), konstruksi (10,6%), dan pengangkutan (13,4%). Solikin menilai peluang penyaluran kredit ke sektor produktif masih terbuka lebar, terutama dengan kondisi likuiditas perbankan yang tetap memadai. Ia menegaskan bahwa fungsi intermediasi perbankan diperkirakan akan terus membaik di masa depan, didukung oleh ketahanan sektor keuangan yang terjaga.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya