Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kualitas Udara Singapura Masih Tidak Sehat Saat Grand Prix Berlangsung

Kualitas udara Singapura tetap tidak sehat pada awal Oktober, memicu kekhawatiran kesehatan saat Grand Prix Formula 1 digelar, dengan pebalap Sainz menyoroti risiko bagi atlet yang beraktivitas di lingkungan tercemar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 23.03 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Kualitas Udara Singapura Masih Tidak Sehat Saat Grand Prix Berlangsung📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kualitas udara di berbagai wilayah Singapura masih berada dalam kategori tidak sehat pada pagi hari Sabtu (10/10), dengan indeks PSI 24 jam mencapai angka tertinggi di wilayah tengah sebesar 176, diikuti oleh wilayah barat (162), timur (157), selatan (141), dan utara (125). Meskipun sedikit menurun dibandingkan puncak rekor pada Jumat (9/10) yang mencapai 192, seluruh area tetap melampaui ambang batas aman sebesar 100. Kondisi ini disebabkan oleh kabut asap yang berasal dari titik panas kebakaran hutan dan lahan di Sumatra bagian selatan serta Kalimantan, yang terbawa angin ke wilayah kota.

Tim Tugas Haze Singapura, yang melibatkan 28 lembaga pemerintah, telah disiagakan untuk menangani potensi krisis jika indeks PSI melonjak di atas 200. Langkah antisipasi yang telah dipersiapkan mencakup distribusi masker N95, pembukaan posko perlindungan ber-AC, serta larangan aktivitas luar ruangan bagi anak-anak dan pekerja rentan. Pemerintah tetap memantau perkembangan secara ketat, mengingat dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh paparan polusi jangka panjang.

Situasi ini menjadi perhatian khusus saat Grand Prix Formula 1 Singapura berlangsung di Sirkuit Marina Bay. Meski sesi balapan tetap berjalan sesuai jadwal, kondisi udara yang buruk menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait kesehatan para pebalap yang berada di luar ruangan dalam durasi panjang. Pe balap Formula 1 asal Spanyol, Carlos Sainz Jr., menyampaikan perhatian terhadap kondisi tersebut, menilai bahwa lingkungan saat ini tidak ideal untuk bernapas, terutama mengingat asap dari kebakaran di Indonesia.

Sainz mengakui dilema yang dihadapi para atlet: harus menjalani aktivitas fisik intens di luar ruangan meski otoritas setempat telah memperingatkan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Ia menegaskan bahwa seluruh pebalap akan mengikuti petunjuk resmi dari otoritas dan penyelenggara. Ia juga menyampaikan bahwa meski kebiasaan menghirup asap dari mesin mobil sudah menjadi bagian dari latihan sejak usia muda, situasi asap akibat kebakaran hutan jelas berbeda dan menimbulkan risiko baru.

Pihak penyelenggara F1 dan otoritas lokal menegaskan bahwa pemantauan terus dilakukan secara real-time, dengan langkah darurat yang siap dijalankan jika diperlukan. Hingga saat ini, kondisi lintasan dinilai masih layak untuk balapan, tanpa ada tanda-tanda penundaan atau pembatalan. Keputusan tetap berada pada kewenangan otoritas kesehatan dan keselamatan, dengan fokus utama pada perlindungan kesehatan para peserta dan penonton.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya