Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Maluku Utara Raih PDB Setengah dari Total Sektor Industri

Sektor hilirisasi nikel menyumbang hampir separuh PDB Maluku Utara, berkat transformasi ekonomi dari tambang mentah ke industri terpadu dengan ekspor bernilai tinggi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 17.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Maluku Utara Raih PDB Setengah dari Total Sektor Industri📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kinerja ekonomi Maluku Utara kini didorong dominan oleh sektor pengolahan mineral, khususnya nikel dan turunannya, yang berkontribusi hampir 50% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi. Transformasi ini menandai perubahan mendasar dari ekonomi berbasis pertambangan mentah menjadi pusat industri terintegrasi, seiring dengan operasional kawasan hilirisasi yang terus berkembang. Dalam acara groundbreaking 11 ekosistem hilirisasi nikel dan ekspor perdana baterai EV di kawasan IWIP, Halmahera Tengah, peran industri manufaktur menjadi penentu pertumbuhan ekonomi daerah.

Pencapaian ini tercermin dari surplus perdagangan Maluku Utara yang mencapai Rp 31,1 triliun pada tahun 2025, didorong oleh ekspor komoditas olahan bernilai tinggi seperti feronikel, nikel matte, mixed sulphide precipitate (MSP), nikel sulfat, dan kobalt. Dengan basis produksi yang terus diperkuat, daerah ini tidak lagi hanya menyuplai bahan mentah, melainkan menjadi bagian dari rantai pasok global kendaraan listrik. Hal ini sejalan dengan tren nasional di mana investasi hilirisasi meningkat signifikan, mencapai 30% dari total realisasi investasi nasional pada semester I 2026.

Kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), yang berdiri sejak 30 Agustus 2018, menjadi pusat utama transformasi ekonomi tersebut. Dengan luas 3.000 hektar, IWIP telah menyerap 117.000 tenaga kerja dan mencatatkan akumulasi investasi mencapai US$ 27 miliar, meningkat dari US$ 20 miliar awal. Total ekspor kawasan mencapai US$ 11 miliar, sementara kapasitas pembangkit listrik terpasang dan terbangun melebihi 7,1 Giga Watt, mendukung operasional industri secara berkelanjutan.

Program pemberdayaan masyarakat melalui dana CSR juga menjadi bagian penting dari ekosistem industri, dengan alokasi lebih dari Rp 600 miliar yang menjangkau 32 desa di sekitar kawasan tambang dan industri. Ini menunjukkan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan yang inklusif. Dengan berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan tren positif, Maluku Utara berdiri sebagai contoh nyata implementasi kebijakan hilirisasi yang mendorong industrialisasi dan kemandirian ekonomi daerah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya