Senin, 5 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Marinir AS Ditangkap atas Pembunuhan dan Perampokan di Okinawa

Seorang anggota Marinir AS ditangkap polisi Jepang karena diduga membunuh dan merampok seorang wanita di Naha, Okinawa, dengan bukti CCTV dan keterangan saksi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 5 Oktober 2026, 12.05 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Marinir AS Ditangkap atas Pembunuhan dan Perampokan di Okinawa📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Seorang prajurit Amerika Serikat dari Korps Marinir telah ditahan otoritas keamanan Jepang atas dugaan pembunuhan dan perampokan terhadap seorang wanita di kawasan Naha, ibu kota Okinawa. Korban, Anna Yagi (39 tahun), ditemukan tewas dalam kamar hotel pada Sabtu, dengan luka bekas cekikan yang diduga berasal dari pelaku. Kasus ini langsung memicu reaksi keras dari pemerintah daerah, khususnya Gubernur Okinawa yang baru dilantik, Genta Koja, yang menekankan ketegangan yang terus memburuk akibat keberadaan militer asing.

Pria yang ditetapkan sebagai tersangka adalah Kopral Dua Devin Jacob Ballard (20), yang diketahui bertugas di Pangkalan Udara Korps Marinir Futenma di Ginowan. Menurut penyelidikan, Ballard diduga memasuki hotel bersama Yagi, lalu keluar sendiri dengan membawa tas dan dompet korban. Rekaman kamera pengawas menunjukkan gerakan mencurigakan yang sesuai dengan ciri fisik dan pakaian tersangka. Polisi juga memastikan keberadaan Ballard di area hiburan pada malam kejadian, memperkuat dugaan keterlibatannya.

Ballard telah membantah semua tuduhan yang diajukan, namun pihak berwenang Jepang tetap melanjutkan proses hukum. Sementara itu, Korps Marinir AS mengonfirmasi status dan lokasi tugas Ballard dalam Pasukan Ekspedisi Marinir III (III Marine Expeditionary Force) dan menyatakan kesiapan untuk bekerja sama sepenuhnya dengan otoritas setempat dalam proses penyelidikan.

Kejadian ini menyoroti kembali dinamika sensitif antara keberadaan militer AS di Okinawa—yang menjadi pusat aktivitas militer terbesar di luar wilayah AS—dengan masyarakat lokal yang sering merasa terganggu oleh insiden yang melibatkan personel militer asing. Dalam konteks yang lebih luas, kasus ini kembali memicu perdebatan soal otoritas hukum dan tanggung jawab atas tindakan prajurit asing di wilayah negara lain.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya