Senin, 28 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Matahari Diduga Telan Planet Raksasa di Masa Awal Tata Surya

Temuan baru menunjukkan Matahari kemungkinan pernah menelan planet Super-Earth dengan massa lima hingga sepuluh kali Bumi saat tahap awal pembentukan tata surya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 21.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Matahari Diduga Telan Planet Raksasa di Masa Awal Tata Surya📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Para ilmuwan mengungkap petunjuk menarik mengenai peristiwa misterius yang terjadi dalam sejarah awal tata surya. Berdasarkan analisis terbaru, Matahari yang kini menjadi pusat sistem tata surya diduga pernah menyerap sebuah planet raksasa jenis Super-Earth. Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Mutlu Yildiz dari Ege University di Turki menunjukkan bahwa keberadaan planet tersebut mungkin menjelaskan anomali kimiawi yang terdeteksi pada struktur Matahari saat ini.

Berdasarkan model komputasi yang dikembangkan tim peneliti, planet tersebut diperkirakan memiliki massa antara lima hingga sepuluh kali massa Bumi dan berada dalam orbit stabil sebelum akhirnya tertarik ke dalam lapisan luar Matahari. Meski suhu ekstrem membuat benda tersebut melebur sepenuhnya, ilmuwan menyatakan bahwa proses penelanan itu meninggalkan jejak kimia yang masih dapat dideteksi hingga kini.

Salah satu bukti utama yang ditemukan adalah kelangkaan unsur lithium di permukaan Matahari. Secara teoritis, bintang seukuran Matahari seharusnya mempertahankan lebih banyak lithium, tetapi kenyataannya justru jauh lebih sedikit. Simulasi menunjukkan bahwa tabrakan dan penelanan planet raksasa mendorong lithium ke lapisan dalam Matahari, tempat unsur tersebut lebih cepat hancur akibat tekanan dan suhu tinggi.

Temuan ini juga membantu menjawab pertanyaan lama dalam astrofisika: mengapa sistem tata surya kita tidak memiliki planet Super-Earth seperti banyak sistem bintang lain di galaksi. Dugaan kuat kini muncul bahwa planet tersebut tidak hilang secara alami, melainkan menjadi korban gravitasi Matahari sendiri. Meski hasil ini masih berbasis model teoretis, penelitian ini membuka wawasan baru tentang evolusi bintang dan dinamika planet dalam tahap awal pembentukan tata surya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya