Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Minat Asuransi Berbasis USD Melesat di Kalangan Kaya

Nasabah kelas atas di Indonesia meningkatkan pemilihan asuransi berdenominasi dolar AS, didorong kebutuhan diversifikasi aset dan perlindungan nilai di tengah fluktuasi rupiah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 21.24 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 74x dibuka
Minat Asuransi Berbasis USD Melesat di Kalangan Kaya📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Tren signifikan terjadi dalam preferensi produk asuransi di kalangan nasabah kaya, khususnya yang memilih solusi berbasis mata uang asing. Data menunjukkan lonjakan permintaan terhadap asuransi berdenominasi dolar Amerika Serikat, terutama dalam segmen affluent dan high-net-worth. Peningkatan ini tercatat mencapai 214% secara tahunan pada semester pertama 2026, dengan total premi mencapai Rp3,8 triliun, menandai pergeseran strategis dalam pengelolaan keuangan jangka panjang.

Kontribusi produk asuransi valas terhadap total premi perusahaan naik drastis dari 18% menjadi 43% dalam periode yang sama. Produk tersebut tersedia melalui dua kanal utama: PRUFuture USD untuk agen, dan PRUTreasure Dolar melalui kemitraan perbankan. Kenaikan ini bukan sekadar respons terhadap volatilitas nilai tukar rupiah, melainkan bagian dari perencanaan aset yang lebih kompleks dan jangka panjang.

Menurut pernyataan internal, alasan utama di balik tren ini adalah perubahan gaya hidup masyarakat menengah atas yang semakin global. Kebutuhan untuk menyekolahkan anak di luar negeri, investasi lintas negara, serta keinginan menjaga nilai aset dari depresiasi mata uang lokal menjadi faktor dominan. Selain perlindungan, nasabah kini melihat asuransi sebagai instrumen pengelolaan kekayaan yang seimbang dan berkelanjutan.

Pertumbuhan industri asuransi jiwa secara keseluruhan juga terpantau positif, dengan total pendapatan premi mencapai Rp94,75 triliun dan jumlah polis mencapai 22,44 juta, naik 7,7% dari tahun sebelumnya. Di antara produk utama, unitlink tumbuh paling pesat dengan kenaikan 34,5% menjadi Rp19,78 triliun, sementara produk tradisional meningkat 14,2% menjadi Rp37,97 triliun.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya