Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Minat Investasi Pelaku Usaha Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Survei Kadin menunjukkan minat investasi pelaku usaha turun menjadi 32,4 persen pada kuartal III 2026, menandai tren penurunan berkelanjutan sejak akhir 2025.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 21.21 WITA·👁 2 orang membaca· 2 hari ini · 25x dibuka
Minat Investasi Pelaku Usaha Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Minat pelaku usaha untuk melakukan investasi dalam enam bulan ke depan kembali mengalami penurunan, mencapai 32,4 persen pada kuartal III 2026, turun dari 34,4 persen di kuartal sebelumnya. Angka ini menunjukkan kecenderungan menahan diri dalam pengambilan keputusan ekspansi, meski tekanan bisnis mulai mereda. Menurut hasil survei Kadin Indonesia Business Pulse, sebagian besar pelaku usaha kini memilih sikap wait and see, menunggu kejelasan arah kebijakan pemerintah dan stabilitas kondisi ekonomi secara lebih luas.

Survei yang dilakukan antara 14 hingga 30 September 2026 melibatkan 330 anggota Kadin dari 28 provinsi dan berbagai sektor industri, menggunakan metode sampling acak daring melalui WhatsApp dan formulir online dengan margin of error 5,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sejak kuartal IV 2025, proporsi pengusaha yang setuju berinvestasi terus menurun, mulai dari 47,1 persen, lalu 38,6 persen, 34,4 persen, dan kini 32,4 persen. Di sisi lain, proporsi yang menolak investasi naik menjadi 40 persen, sementara responden yang bersikap netral meningkat dari 22,1 persen menjadi 27,6 persen.

Faktor utama yang mendorong penurunan minat investasi adalah tingginya biaya modal dan ketidakpastian nilai tukar rupiah, yang berdampak pada biaya impor peralatan dan bahan baku. Meski realisasi investasi secara agregat pada kuartal II 2026 mencapai Rp511,78 triliun dengan pertumbuhan 7,1 persen tahunan—didorong oleh proyek hilirisasi dan investasi besar—minat dari pelaku usaha secara umum tetap melemah. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara data statistik dan persepsi pelaku usaha terhadap kondisi bisnis.

Perbedaan perilaku terjadi antar skala usaha. Usaha besar menunjukkan stabilitas dengan 42,4 persen pelaku yang setuju berinvestasi, meski proporsi penolak meningkat menjadi 39,4 persen. Sementara itu, usaha kecil dan menengah menunjukkan sedikit perbaikan dengan peningkatan dari 27,3 persen menjadi 36,5 persen yang setuju, namun masih didominasi oleh penolak sebesar 46,1 persen. Pada usaha mikro, minat investasi turun menjadi 28 persen, dengan 36,3 persen menolak dan 35,7 persen bersikap netral, menunjukkan kecenderungan menahan diri.

Kebijakan dan program pemerintah menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha, dengan 17,8 persen responden menyebutnya sebagai hambatan utama—meningkat dari periode sebelumnya. Sementara itu, tingkat keberatan terhadap birokrasi turun dari 16,4 persen menjadi 9,8 persen, menunjukkan pergeseran keluhan dari prosedur administratif ke substansi kebijakan. Di sisi pembiayaan, terjadi disparitas signifikan: kredit korporasi tumbuh 22,14 persen, sementara kredit UMKM hanya tumbuh 2,8 persen, mengindikasikan ketimpangan akses pembiayaan yang perlu ditinjau ulang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya