MSCI Pertimbangkan Turunkan Status Pasar Saham RI
Pasar saham Indonesia anjlok 11% setelah MSCI menyatakan tidak lagi memenuhi kriteria pasar berkembang, dengan kemungkinan klasifikasi ulang menjadi pasar mandiri.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 17.31 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 103x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks saham acuan Indonesia, JKSE, mengalami penurunan tajam sebesar 11% pada Jumat (16/10/2026), menyusul pernyataan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyatakan bahwa pasar ekuitas nasional tidak lagi memenuhi kriteria untuk tetap berstatus pasar berkembang. Penurunan ini terjadi di tengah proses konsultasi yang sedang berjalan oleh MSCI terkait rencana pengeluaran saham Indonesia dari sejumlah produk indeks global yang menjadi rujukan investor internasional.
Ketidakmampuan pasar untuk menunjukkan kemajuan konsisten dalam aspek tata kelola dan struktur pasar menjadi alasan utama penurunan klasifikasi. MSCI menilai bahwa disfungsi pasar, termasuk dugaan praktik perdagangan terkoordinasi dan kelemahan penegakan hukum, masih menjadi tantangan serius yang belum teratasi secara signifikan. Meskipun sejumlah reformasi telah diumumkan, tidak terdapat bukti konkret atas perbaikan yang berkelanjutan.
Sebagai dampak dari potensi klasifikasi ulang, pasar saham Indonesia kemungkinan besar akan dimasukkan ke dalam kategori Pasar Mandiri (Standalone Market), yang secara umum hanya ditempati negara-negara dengan likuiditas dan transparansi pasar yang terbatas. Kategori ini tidak mencerminkan kedalaman isu yang ada, sekaligus dapat memicu aksi keluar modal asing secara besar-besaran. Rupiah pun melemah sekitar 0,8% menjadi 95,0550 per dolar AS dalam perdagangan hari itu.
Keputusan MSCI memiliki dampak luas karena indeks yang dikelola perusahaan asal New York tersebut menjadi acuan utama bagi manajer investasi global. Dengan lebih dari 1.200 perusahaan yang tercakup dalam indeks pasar berkembang, perubahan klasifikasi dapat memicu penyesuaian portofolio secara masif, terutama dari dana pensiun dan investasi institusional yang mengikuti indeks tersebut.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

BYAN Buka Suara Soal Transaksi Saham ke Jhonlin Baratama
Perseroan menyatakan belum ada perubahan pengendalian meski transaksi saham ke Jhonlin Baratama terjadi pada harga seragam Rp2.588 per saham.
24 Oktober 2026

BRI Perkuat Nilai Saham Lewat Buyback Rp1 Triliun
BRI resmi luncurkan program buyback saham tahap kedua senilai maksimal Rp1 triliun, berlangsung hingga Januari 2027, dengan tetap jaga kesehatan permodalan dan kepercayaan pemegang saham.
24 Oktober 2026

Wall Street Picu Pelemahan Bursa Asia
Bursa Asia melemah pada perdagangan Jumat (23/10/2026) menyusul koreksi tajam saham teknologi AS akibat kekhawatiran pendanaan infrastruktur kecerdasan buatan.
24 Oktober 2026

IHSG Melonjak, Saham BBRI dan AMMN Pimpin Penguatan Pasar
Indeks Harga Saham Gabungan naik 1,12% ke level 5.387,90 didorong kenaikan saham unggulan dan ekspansi bisnis emiten, meski investor asing catatkan penjualan bersih besar.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

IHSG Awal Perdagangan Naik 0,18% ke 5.397
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

Rupiah Melemah Tipis di Awal Pekan, Tekanan Global Masih Menghantui
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

Bank Mandiri Bagi Dividen Rp50,63 Triliun dan Realisasi Buyback 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

50 Juta Warga Belum Punya Rekening, Pemerintah Siapkan Solusi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.03 WITA

DSN MUI Ungkap Dua Aset Kripto Berpotensi Halal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.02 WITA

Hakim Batalkan Vonis Kartel Bunga, AFPI Soroti Kepatuhan Regulator
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.02 WITA

Volvo Percepat Efisiensi, PHK 2.500 Karyawan Global
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.02 WITA

Tiga Tokoh Raih Penghargaan Energi Subroto 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.01 WITA

