Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Musim Panas 2026 Terburuk dalam Sejarah Eropa, 50 Ribu Jiwa Meninggal

Gelombang panas ekstrem pada 2026 menewaskan lebih dari 50 ribu orang di Eropa, menandai periode paling mematikan akibat suhu tinggi sepanjang catatan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 15.36 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 22x dibuka
Musim Panas 2026 Terburuk dalam Sejarah Eropa, 50 Ribu Jiwa Meninggal📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Musim panas 2026 menjadi yang paling mematikan dalam sejarah Eropa, dengan lebih dari 50 ribu kematian dikaitkan langsung dengan gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan tersebut. Angka ini merupakan rekor tertinggi dalam 26 tahun terakhir, jauh melampaui dampak panas besar pada 2022 dan 2003. Data diperoleh dari analisis suhu di 854 kota di 30 negara Eropa, dibandingkan dengan skenario tanpa perubahan iklim, serta didukung oleh riset korelasi antara suhu tinggi dan angka kematian harian.

Sebanyak 32.600 jiwa diperkirakan gugur akibat perubahan iklim yang diperparah oleh emisi dari bahan bakar fosil. Peningkatan kontribusi ini dari 40% pada awal abad ini menjadi dua pertiga saat ini menunjukkan kian besarnya peran aktivitas manusia dalam memperparah cuaca ekstrem. Eropa Barat mencatat suhu rata-rata 2,9 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1991–2020, dengan puncak suhu melampaui normal lebih dari 12 derajat Celsius di beberapa wilayah.

Wilayah Eropa Selatan dan Barat paling terdampak, namun negara-negara di kawasan utara seperti Inggris juga mencatat ribuan kematian akibat panas ekstrem. Risiko tertinggi ditemukan pada kelompok usia 85 tahun ke atas, namun lebih dari 800 orang berusia 20 hingga 44 tahun juga diperkirakan meninggal akibat paparan panas. Temuan ini menekankan bahwa ancaman panas ekstrem tidak hanya mengancam lansia, tetapi juga mengancam populasi produktif.

Para peneliti menegaskan bahwa tanpa perubahan drastis dalam kebijakan energi dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil, musim panas mendatang akan semakin ekstrem dan mematikan. Kondisi ini menjadi peringatan nyata bahwa perubahan iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang sudah membawa hilangnya nyawa dan duka yang mendalam bagi keluarga korban.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya