Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pasar Nikel Global Melonjak, Indonesia Dorong Hilirisasi Produk Akhir

Permintaan nikel global diproyeksikan naik 21,39% hingga 2031, mendorong Indonesia memperdalam hilirisasi hingga produk akhir demi optimalisasi nilai tambah domestik.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 23.25 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 146x dibuka
Pasar Nikel Global Melonjak, Indonesia Dorong Hilirisasi Produk Akhir📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Proyeksi dari Shanghai Metals Market menunjukkan lonjakan signifikan dalam permintaan nikel global, yang diperkirakan meningkat dari 3.717 kiloton pada 2026 menjadi 4.512 kiloton pada 2031. Pertumbuhan ini didorong utama oleh ekspansi sektor baterai dan baja nirkarat, membuka ruang strategis bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi industri pengolahan dalam negeri. Dengan potensi pasar yang meluas, pemerintah dan pelaku industri kini berfokus pada pengembangan kapasitas hingga tahap akhir produksi, bukan hanya menghasilkan produk antara.

Imaduddin Abdullah, Direktur INDEF Green Transition Initiative, menekankan bahwa momentum global ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat struktur industri nasional. Menurutnya, kunci keberhasilan terletak pada peningkatan kompleksitas produk yang dihasilkan, yang secara otomatis memperluas keterkaitan industri dan melibatkan lebih banyak pelaku lokal dalam rantai pasok. Dengan produk yang lebih maju, dampak ekonomi yang dihasilkan akan lebih luas dan berkelanjutan bagi seluruh ekosistem industri dalam negeri.

Ketua Umum Indonesian Mining Association, Rachmat Makkasau, menyatakan bahwa nilai tambah tertinggi memang terletak pada sektor hilir. Ia menekankan perlunya pendekatan terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk memastikan seluruh tahapan produksi dapat memaksimalkan kontribusi ekonomi dalam negeri. Dengan demikian, pengembangan industri baterai dan material pendukung harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya sebatas pengolahan bahan baku.

Sejumlah proyek strategis telah diluncurkan untuk mewujudkan visi tersebut. Grup MIND ID melalui ANTAM dan IBC sedang membangun fasilitas produksi baterai di Karawang dengan kapasitas awal 6,9 GWh, dengan rencana ekspansi hingga 15 GWh. Di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park, Maluku Utara, proyek terintegrasi mulai beroperasi, mencakup produksi material baterai berbasis nikel, baterai kendaraan listrik, aluminium elektrolit, hingga alat berat listrik.

Untuk mendorong transformasi ini, pemerintah kini meninjau kebijakan moratorium terhadap smelter yang hanya menghasilkan produk antara. Langkah ini diambil guna mencegah oversupply global yang mencapai sekitar 2,5 juta ton dan memastikan seluruh nilai tambah dari sumber daya mineral tetap berada di dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa tujuan utama adalah mencapai nilai tambah 100% dalam negeri, dengan regulasi yang mendukung transformasi industri ke arah produk akhir.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya