Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

PDIP Soroti Kekeringan dan Karhutla sebagai Krisis yang Harus Diselesaikan, Bukan Diterima sebagai Musiman

PDIP menekankan kekeringan dan karhutla bukan fenomena tahunan yang bisa diabaikan, melainkan tantangan sistemik yang membutuhkan mitigasi permanen dan rehabilitasi ekologis.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 15.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 27x dibuka
PDIP Soroti Kekeringan dan Karhutla sebagai Krisis yang Harus Diselesaikan, Bukan Diterima sebagai Musiman📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) tidak boleh lagi dipandang sebagai kejadian rutin musiman yang hanya ditangani setelah dampaknya dirasakan masyarakat. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua DPP PDIP Said Abdullah, yang menyoroti pentingnya mengubah paradigma penanganan bencana dari responsif menjadi preventif. Ia menekankan bahwa ketika musim kemarau tiba, masyarakat di banyak daerah kembali menghadapi krisis air, sementara area pegunungan justru dilanda kebakaran, menunjukkan kegagalan sistemik dalam pengelolaan lingkungan.

Menurut Said, pola kejadian yang berulang di wilayah yang sama setiap tahun menunjukkan bahwa masalah sudah bisa dipetakan sejak awal. Dengan demikian, solusi darurat seperti penyaluran air melalui tangki harus disertai upaya jangka panjang. Ia menyoroti bahwa bantuan sementara tidak cukup jika tidak disertai perbaikan infrastruktur dan konservasi lingkungan yang berkelanjutan. Masyarakat seharusnya tidak terus bergantung pada bantuan darurat tiap musim kemarau.

Pemulihan ekosistem pasca-kebakaran juga menjadi bagian tak terpisahkan dari penanganan. Said menekankan bahwa setelah api padam, pekerjaan baru saja dimulai. Evaluasi terhadap kerusakan vegetasi, habitat, mata air, dan daerah tangkapan air harus dilakukan secara menyeluruh, disusul rehabilitasi sesuai kebutuhan ekologis masing-masing kawasan. Hutan bukan hanya penyangga ekosistem, tetapi juga fondasi bagi ketersediaan air bagi masyarakat di hilir.

PDI Perjuangan, menurut Said, telah turun ke lapangan di berbagai daerah untuk membantu masyarakat terdampak. Di Bojonegoro, anggota DPR RI dari fraksi partai bersama jaringan kader menyalurkan sekitar 262 ribu liter air bersih ke 52 titik. Di Kota Batu, dukungan logistik diberikan kepada petugas dan relawan yang menangani kebakaran Gunung Butak. Kegiatan ini bukan pengganti tugas pemerintah, melainkan bentuk gotong royong dan kesadaran kolektif bahwa perlindungan lingkungan adalah bentuk perlindungan terhadap rakyat.

Said juga mengingatkan pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri agar kader menjadi Pandu Ibu Pertiwi—yang tidak hanya melihat kehancuran alam, tetapi ikut bertindak untuk memulihkannya. Dengan demikian, setiap musim kemarau yang datang bukan lagi momen ketergantungan pada bantuan, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem yang telah gagal selama bertahun-tahun.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya