Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemerintah Dorong Industri Hilir Nikel untuk Serap Produk Setengah Jadi

Pemerintah mempertimbangkan pembatasan smelter baru yang hanya menghasilkan produk setengah jadi, demi mendorong nilai tambah 100% dalam negeri dan menyerap produksi lokal melalui industri hilir.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 17.46 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 59x dibuka
Pemerintah Dorong Industri Hilir Nikel untuk Serap Produk Setengah Jadi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah kini mengkaji kebijakan pembatasan pembangunan fasilitas pemurnian dan pemrosesan nikel yang hanya menghasilkan produk setengah jadi, sebagai respons atas surplus pasokan global sebesar 2,5 juta ton. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan ini adalah mencapai nilai tambah penuh dalam negeri, bukan sekadar ekspor bahan baku olahan. Ia menyatakan bahwa saat ini masih banyak smelter yang menghasilkan produk antara dengan tingkat nilai tambah hanya 50% hingga 60%, yang dinilai belum optimal.

Kondisi oversupply yang terjadi di pasar global menjadi dasar utama pertimbangan kebijakan tersebut. Dengan produksi nikel global yang jauh melampaui konsumsi dunia, pemerintah memilih untuk tidak memperluas kapasitas smelter yang hanya menghasilkan produk intermediate. Sebaliknya, fokus kini dialihkan pada pengembangan industri hilir dalam negeri yang mampu mengolah bahan baku setengah jadi menjadi produk akhir bernilai tinggi. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan ekspor dan memperkuat rantai nilai domestik.

Pada 2025, produksi nikel olahan hasil hilirisasi di Indonesia mencapai 2,5 juta ton, menjadikan negara ini sebagai penyedia utama nikel global dengan pangsa pasar mencapai 60%. Data dari Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menunjukkan bahwa kapasitas produksi nasional mencapai 2,7 juta ton Ni, berasal dari pengolahan melalui jalur pirometalurgi dan hidrometalurgi. Komposisi produksi terdiri dari 2,05 juta ton produk NPI, FeNi, dan Matte, serta 450 ribu ton MHP (nikel sulfat).

Proyeksi produksi pada 2026 diproyeksikan menurun sekitar 3,5% hingga 4% dibandingkan tahun sebelumnya, namun diperkirakan kembali naik signifikan pada 2027. Peningkatan ini akan didorong oleh penyelesaian proyek-proyek hidrometalurgi berbasis HPAL yang akan segera memasuki tahap komisioning dan operasi penuh. Kapasitas produksi MHP diproyeksikan meningkat melebihi 900 ribu ton pada akhir 2027, menjadikan Indonesia pemain dominan dalam pasokan nikel untuk baterai kendaraan listrik.

Peningkatan kapasitas ini tidak hanya menopang ekspor, tetapi juga mendukung transformasi industri dalam negeri. Dengan adanya kenaikan produksi MHP dan pengembangan industri hilir, produk nikel olahan dari smelter dapat dimanfaatkan dalam sektor manufaktur dalam negeri, seperti baterai dan komponen kendaraan listrik. Tujuan akhirnya adalah mengurangi ekspor bahan mentah dan menyerap seluruh produk hasil olahan dalam negeri, sesuai dengan visi hilirisasi yang berkelanjutan dan berdaya saing global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya