Pemerintah Perkuat Ekspor Produk Bernilai Tambah ke Pasar Global
Pemerintah dorong ekspor produk bernilai tambah ke negara mitra utama, dengan pemetaan potensi kesenjangan ekspor hingga US$60 miliar di Tiongkok, AS, Jepang, dan India.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 17.37 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 38x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis untuk memperluas basis ekspor melalui peningkatan produk bernilai tambah, khususnya ke pasar utama seperti Republik Rakyat Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang, dan India. Upaya ini dilakukan dengan menyelaraskan kapasitas produksi dalam negeri dengan permintaan spesifik di negara tujuan, sekaligus mengidentifikasi celah ekspor yang belum dimanfaatkan secara optimal. Pendekatan berbasis komoditas dan pasar menjadi fondasi utama dalam memperkuat kinerja perdagangan nasional di tengah dinamika global yang terus berubah.
Berdasarkan pemetaan terkini hingga 2025, potensi ekspor Indonesia di Tiongkok mencapai US$31 miliar, dominan pada mineral dan logam, produk kimia, mesin, serta bahan baku kayu, kertas, karet, dan plastik. Di Amerika Serikat, celah ekspor tercatat sebesar US$14 miliar, terutama pada sektor kendaraan, elektronik, dan bahan kimia. Jepang membuka peluang ekspor sebesar US$5,5 miliar, terutama untuk produk hasil laut, bahan nabati, dan mineral. Sementara itu, India menunjukkan potensi ekspor sebesar US$10 miliar, terutama dari produk mineral, bahan kimia, dan peralatan elektronik.
Untuk mewujudkan potensi ini, pemerintah fokus pada pengembangan nilai tambah melalui sektor pertambangan, pertanian, perkebunan, perikanan, dan manufaktur. Fokus khusus diberikan pada produk elektronik, teknologi tinggi, dan perangkat telekomunikasi yang memiliki daya saing global. Strategi ini tidak hanya menekankan pada volume ekspor, tetapi juga pada diversifikasi komoditas dan kualitas produk yang sesuai dengan standar pasar internasional.
Koordinasi lintas kementerian dan lembaga terus diperkuat untuk mengurai hambatan ekspor, termasuk regulasi, sertifikasi produk, dan tantangan teknis di lapangan. Tujuannya adalah memastikan bahwa peluang pasar yang masih terbuka dapat segera diwujudkan dalam bentuk ekspor nyata dan berkelanjutan. Dengan pendekatan yang terukur dan berbasis data, pemerintah optimistis dapat meningkatkan nilai ekspor secara agregat sekaligus memperdalam posisi Indonesia di pasar global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu per Gram Hari Ini
Harga emas batangan Antam turun Rp10 ribu menjadi Rp2,540 juta per gram pada perdagangan Jumat, 23 Oktober.
24 Oktober 2026

Investor Desak MSCI Jelaskan Alasan Penurunan Status Pasar Indonesia
Investor global mendesak MSCI menjelaskan alasan ancaman penurunan kasta pasar modal Indonesia, menekankan perlunya transparansi dan penindakan nyata terhadap manipulasi pasar.
24 Oktober 2026

Suahasil Lantik Pejabat Baru, Sekjen Kemenkeu Diganti
Menteri Keuangan Suahasil Nazara melantik sejumlah pejabat tinggi di Kemenkeu, termasuk pengganti sekretaris jenderal yang sebelumnya dijabat Robert Leonard Marbun.
24 Oktober 2026

Bahlil Dorong E50 untuk Kurangi Impor BBM
Pemerintah mempercepat program E50 sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan impor bensin dalam lima tahun ke depan.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pemerintah dan Pertamina Percepat Siap Operasional Kilang RDMP Balikpapan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya di Kemenkeu
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Ibu 55 Tahun Ajak Anak Cari Kerja di Job Fair Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Pemerintah Perkuat Rantai Pasok Pangan Hadapi Tantangan Iklim
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.24 WITA

Transmart Gelar Full Day Sale, Diskon Elektronik Hingga Jutaan Rupiah
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.22 WITA

BI Siapkan Insentif Kredit untuk Sektor Baru Prioritas
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.22 WITA

Nenek 96 Tahun Raih 15 Juta Pengikut, Bantu Biaya Panti Jompo
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.05 WITA

<Korea Utara dan Ancaman Invasi: Realitas atau Simulasi Game?>
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.05 WITA

