Selasa, 6 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pengawasan Digital Anak Butuh Keseimbangan Antara Teknologi dan Komunikasi

Orang tua perlu menggabungkan pengaturan teknis dan pendampingan emosional untuk melindungi anak dari risiko digital secara efektif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 6 Oktober 2026, 21.08 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Pengawasan Digital Anak Butuh Keseimbangan Antara Teknologi dan Komunikasi📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Penggunaan ponsel oleh anak-anak kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, baik untuk keperluan belajar maupun hiburan. Namun, akses yang mudah ke internet membuka peluang besar bagi paparan konten berbahaya, termasuk pornografi, perundungan daring, dan penipuan. Ancaman semakin membesar dengan kemunculan teknologi kecerdasan buatan yang memungkinkan pembuatan konten palsu, seperti deepfake, yang bisa melibatkan anak secara ilegal. UNICEF telah memperingatkan bahwa dalam satu tahun terakhir, sedikitnya 1,2 juta anak di 11 negara mengalami manipulasi citra menjadi gambar seksual palsu melalui AI.

Upaya perlindungan tidak cukup hanya dengan memblokir aplikasi atau mengawasi aktivitas secara diam-diam. Orang tua harus membangun komunikasi terbuka dengan anak, memahami aktivitas digital yang dilakukan, seperti aplikasi favorit, media sosial yang digunakan, atau siapa saja yang menjadi kontak utama. Pendekatan ini harus dilakukan dengan empati, bukan sebagai tindakan pengawasan yang mengintimidasi. Tujuannya adalah agar anak merasa aman untuk melapor jika menemui hal yang membuatnya tidak nyaman, tanpa takut dihukum.

Fitur kontrol orang tua (parental control) dan pencarian aman (SafeSearch) menjadi alat pendukung penting. Dengan mengaktifkan fitur tersebut, orang tua dapat membatasi akses ke konten dewasa, mengatur durasi penggunaan layar, serta membatasi pembelian dalam aplikasi. Namun, penggunaan teknologi harus disertai edukasi. Anak perlu dipahamkan bahwa tidak semua informasi di internet bisa dipercaya, dan mereka harus tahu cara menanggapi konten yang tidak sesuai, seperti menutup layar dan segera berbicara dengan orang dewasa yang dipercaya.

Perubahan perilaku anak, seperti menolak menggunakan ponsel, menunjukkan kecemasan setelah menerima pesan, atau menjadi tertutup, bisa menjadi tanda adanya cyberbullying. Orang tua perlu waspada terhadap gejala-gejala ini dan mendukung anak untuk menyimpan bukti, memblokir pelaku, serta melaporkan kejadian tersebut melalui fitur yang tersedia. Penting juga untuk mengajarkan anak tentang privasi digital, seperti tidak membagikan informasi pribadi seperti alamat, nomor telepon, atau lokasi sekolah secara sembarangan, karena jejak digital sulit dihapus.

Kunci utama dalam perlindungan digital adalah konsistensi dan kerja sama. Aturan penggunaan ponsel harus dibuat bersama, dengan jelas menyepakati waktu penggunaan, aplikasi yang boleh digunakan, dan tindakan jika menemui situasi berisiko. Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya menjadi pengguna yang diawasi, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang mampu membuat keputusan bijak di dunia digital.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya