Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Penularan HIV: Fakta Ilmiah di Balik Mitos yang Berkembang

HIV menyebar melalui cairan tubuh tertentu yang masuk ke aliran darah atau selaput lendir, bukan melalui kontak fisik biasa seperti berjabat tangan atau berpelukan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 23.22 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Penularan HIV: Fakta Ilmiah di Balik Mitos yang Berkembang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - HIV tidak menular melalui sentuhan fisik, pelukan, atau interaksi sosial sehari-hari seperti berbagi makanan atau minuman. Virus ini hanya bisa berpindah jika terjadi pertukaran cairan tubuh yang mengandung virus, seperti darah, sperma, cairan vagina, atau ASI, dan masuk langsung ke aliran darah atau melalui jaringan yang terluka atau selaput lendir. Kondisi ini sangat spesifik, sehingga kontak sehari-hari tidak membawa risiko penularan.

Salah satu jalur utama penularan adalah hubungan seksual tanpa alat pelindung, baik secara vaginal maupun anal. Virus dapat masuk melalui luka kecil, lecet, atau selaput lendir pada organ intim. Meski sangat jarang, penularan juga bisa terjadi melalui seks oral jika terdapat luka atau perdarahan pada area mulut atau genital. Dalam kondisi tertentu, kontak langsung dengan darah yang terkontaminasi juga bisa menjadi risiko.

Penggunaan jarum suntik, alat bedah, atau peralatan tajam yang sebelumnya digunakan oleh orang dengan HIV dan tidak disterilkan dengan benar juga menjadi jalur penularan. Hal serupa berlaku untuk tato dan tindik jika alat yang digunakan tidak steril atau terkontaminasi darah. Prosedur kosmetik lain yang melibatkan luka pada kulit juga berpotensi menularkan virus jika tidak dijalankan dengan standar kebersihan yang ketat.

Penularan melalui transfusi darah kini sangat rendah berkat skrining yang ketat terhadap donor. Namun, risiko tetap ada jika prosedur pemeriksaan tidak dilakukan. Lebih lanjut, HIV dapat ditularkan dari ibu ke bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui, yang disebut penularan vertikal. Meski demikian, dengan deteksi dini dan terapi antiretroviral yang tepat, risiko penularan bisa diminimalkan hingga hampir nol.

Pemahaman yang akurat tentang penularan HIV sangat penting untuk mengurangi stigma dan membentuk respons kesehatan yang tepat. Mengetahui bahwa virus tidak menyebar melalui udara, air liur, atau kontak fisik biasa membantu masyarakat tidak memandang diskriminatif terhadap mereka yang hidup dengan HIV. Pencegahan efektif hanya mungkin terjadi jika informasi yang diberikan berbasis bukti ilmiah dan tidak terpengaruh mitos yang salah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya