Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Perusahaan Siap Beli Kembali Saham, Dorong Stabilitas Pasar

Sejumlah emiten di BEI menyiapkan atau melanjutkan aksi pembelian kembali saham dengan nilai mencapai triliunan rupiah, seiring upaya menjaga stabilitas harga dan nilai pemegang saham.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 15.34 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 14x dibuka
Perusahaan Siap Beli Kembali Saham, Dorong Stabilitas Pasar📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sejumlah perusahaan publik di Indonesia mulai mempercepat atau mengevaluasi rencana pembelian kembali saham (buyback) sebagai respons terhadap dinamika pasar modal yang cenderung fluktuatif. Aksi ini melibatkan emiten dari berbagai sektor strategis, termasuk perbankan, telekomunikasi, energi, dan petrokimia, dengan anggaran yang telah disetujui mencapai ratusan triliun rupiah. Buyback dianggap sebagai mekanisme korporasi yang efektif untuk meningkatkan nilai perusahaan dan memberikan kepercayaan kepada investor, meski dampaknya tetap tergantung pada kondisi pasar dan kinerja operasional masing-masing emiten.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi salah satu pelaku utama dengan menetapkan anggaran maksimal Rp4 triliun untuk program buyback yang telah disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 8 Juni 2026. Program ini berlaku hingga 8 Juni 2027, dengan sisa alokasi yang masih tersisa lebih dari Rp3 triliun per 19 Oktober 2026. Pembelian dilakukan menggunakan kas internal, dengan pertimbangan kondisi pasar, ketersediaan likuiditas, serta kebutuhan operasional dan investasi jangka panjang. Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, menegaskan bahwa aksi ini bagian dari strategi alokasi modal jangka panjang untuk menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.

Di sektor perbankan, Bank Central Asia (BBCA) melanjutkan program buyback pada periode 19–23 Oktober 2026, yang merupakan perpanjangan dari jadwal sebelumnya. Aksi ini merupakan kelanjutan dari realisasi sebelumnya pada April dan Juni 2026, dengan periode berlaku hingga 11 Maret 2027. Perusahaan menegaskan bahwa pelaksanaan buyback tidak berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan maupun operasional. Sementara itu, Bank Negara Indonesia (BBNI) menjalankan program buyback hingga 26 Oktober 2026, dengan pertimbangan untuk memperpanjang jadwal jika kondisi pasar memungkinkan, sesuai dengan keputusan RUPS yang telah disetujui.

Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) masih dalam tahap evaluasi terhadap kemungkinan pelaksanaan buyback. Direktur Utama Nixon L P Napitupulu menyampaikan bahwa kajian dilakukan secara hati-hati, mempertimbangkan kondisi pasar, kebutuhan modal, dan kebutuhan pendanaan untuk ekspansi bisnis. Meski sebelumnya pernah menyiapkan dana Rp275 miliar untuk buyback pada 2020 saat pandemi, rencana terbaru belum diumumkan secara resmi. Keputusan akhir akan diambil dengan memperhatikan kesehatan keuangan dan kepentingan seluruh pemegang saham, sejalan dengan fokus perusahaan pada pengembangan pembiayaan perumahan dan transformasi bisnis ke arah layanan non-mortgage.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya