Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Potensi Mineral dan Migas Jadi Fondasi Pembangunan Berkelanjutan Papua

Seminar nasional oleh IA-ITB Papua dan Papua Barat tekankan penguatan investasi, SDM lokal, dan kolaborasi untuk maksimalkan manfaat sumber daya alam.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 09.24 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 62x dibuka
Potensi Mineral dan Migas Jadi Fondasi Pembangunan Berkelanjutan Papua📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertemuan nasional yang digelar oleh Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) wilayah Papua dan Papua Barat di Jakarta menyoroti pentingnya pendekatan terpadu dalam memanfaatkan potensi mineral dan minyak serta gas bumi (migas) di Tanah Papua. Acara yang berlangsung pada 21 Oktober ini menjadi wadah diskusi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat untuk membahas strategi pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan memberi dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat setempat.

Ketua IA-ITB Papua dan Papua Barat, Hengky Rumbino, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan di Papua tidak hanya ditentukan oleh volume produksi atau nilai investasi, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat lokal turut serta dalam proses ekonomi. Ia menekankan perlunya perencanaan jangka panjang, dukungan kebijakan strategis, serta sinergi antar sektor guna menjamin bahwa manfaat dari sumber daya alam dirasakan secara merata dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Direktur dan Executive Vice President Sustainable Development PT Freeport Indonesia (PTFI), Claus Wamafma, menyatakan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, tata kelola, dan penghormatan terhadap kearifan lokal. Ia mencontohkan peran PTFI dalam menciptakan lapangan kerja, mendukung UMKM, memperkuat rantai pasok, serta berkontribusi terhadap pendapatan fiskal daerah dan nasional. Menurutnya, pengolahan dan hilirisasi mineral di dalam negeri merupakan langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah dan kemandirian industri nasional.

Forum juga menyoroti tantangan yang masih menghambat pengembangan, seperti keterbatasan infrastruktur, tingginya biaya logistik, ketersediaan energi, serta kebutuhan peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal. Oleh karena itu, diperlukan kepastian hukum, dukungan kebijakan yang mendukung investasi berkelanjutan, dan penguatan eksplorasi. Di sektor migas, perlu adanya penguatan produksi, pendukung infrastruktur, serta partisipasi Badan Usaha Milik Daerah melalui skema participating interest.

Pihak penyelenggara berharap hasil diskusi dapat dijadikan dasar kebijakan nyata yang mendukung pembangunan Papua yang inklusif dan berkelanjutan. Rekomendasi dari seminar diharapkan menjadi acuan dalam merancang kebijakan yang memastikan masyarakat Papua tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktif berpartisipasi dalam ekonomi berbasis sumber daya alam.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya