Pramono Bantah Asap Karhutla Picu Polusi Jakarta
Gubernur DKI Jakarta menegaskan kualitas udara buruk di ibu kota bukan akibat karhutla, melainkan faktor internal, dan pemerintah telah lakukan modifikasi cuaca untuk turunkan polusi.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 21.00 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 18x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara tegas menolak klaim bahwa penurunan kualitas udara di Jakarta disebabkan oleh asap dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah lain. Ia menegaskan bahwa tidak ada kontribusi signifikan dari fenomena karhutla terhadap kondisi atmosfer ibu kota saat ini. Meski kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat, Pramono menekankan bahwa penyebab utamanya berasal dari sumber lokal, bukan kiriman asap dari luar wilayah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan langkah antisipatif dengan melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menciptakan hujan buatan. Kegiatan ini dilakukan di wilayah perbatasan Jakarta, khususnya di Bogor dan Tanggerang Selatan, karena awan-awan yang menjadi target penyemaian terdeteksi di kawasan tersebut. Upaya ini diharapkan dapat membantu menurunkan partikel polutan di atmosfer ibu kota.
Pramono menegaskan bahwa meski situasi udara belum ideal, tidak ada indikasi bahwa kebakaran hutan di luar Jakarta menjadi penyebab utama. Ia meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak akurat, terutama terkait penyebab polusi yang bisa menimbulkan kepanikan. Penjelasan ini disampaikan dalam konferensi pers di Kantor Gubernur DKI Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Dengan pendekatan berbasis data dan pengamatan lapangan, pemerintah berkomitmen untuk terus memantau kualitas udara secara real time dan mengambil kebijakan yang tepat. Upaya modifikasi cuaca menjadi salah satu strategi prioritas, selain penguatan pengawasan emisi dari sektor transportasi dan industri. Tujuannya, memastikan kesehatan warga tetap terjaga di tengah kondisi atmosfer yang dinamis.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Ngatiyem Bangkitkan Jamu H’Dayah dari Pengalaman Sakit Suami
Pelaku UMKM asal Ciawi, Bogor, mengembangkan jamu instan H’Dayah berbasis herbal setelah suaminya sembuh dari gangguan paru-paru dan hati setelah mengonsumsi racikan kunyit putih dan jahe merah.
24 Oktober 2026

Peradi SAI dan TP PKK Gelar Sosialisasi Hukum di Bali
Sosialisasi Keluarga Sadar Hukum digelar di Denpasar untuk tingkatkan pemahaman masyarakat terhadap pencegahan kekerasan fisik dan verbal melalui edukasi hukum.
24 Oktober 2026

Pemanggilan Ulang Dandhy Laksono Dijadwalkan 27 Oktober
Polda Metro Jaya mengatur ulang pemanggilan sutradara film Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono, untuk klarifikasi terkait laporan narasumber yang menilai karya tersebut melanggar privasi.
24 Oktober 2026

Jelang Bulan Pemburu, Cuaca Jakarta Diprakirakan Berawan dengan Hujan Malam
BMKG memperkirakan Jakarta berawan hingga berawan tebal pada 24 Oktober 2026, dengan potensi hujan di Selatan dan Timur malam hari, menjelang fenomena Hunter's Moon.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

BEI Pantau Transaksi Saham PNSE dan DKHH Akibat Volatilitas Ekstrem
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Agoes Projosasmito Akuisisi Saham BRMS Senilai Rp2,4 M
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Inflasi Jepang Naik, BOJ Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Menko Airlangga: Bukan Hanya MSCI yang Menentukan Kredibilitas Pasar Modal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

BRI Perluas Akses Magang Nasional untuk Generasi Muda
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

