Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Prediksi 19.300 Kematian Berlebih Akibat El Nino 2026 di Indonesia

Studi riset memproyeksikan 19.300 kematian berlebih di Indonesia akibat lonjakan suhu selama El Nino 2026–2027, berdasarkan ekstrapolasi pola global yang tak bisa divalidasi secara langsung.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 23.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Prediksi 19.300 Kematian Berlebih Akibat El Nino 2026 di Indonesia📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Proyeksi dari riset terbaru menunjukkan bahwa Indonesia berpotensi mengalami lonjakan kematian berlebih sebanyak 19.300 orang antara September 2026 hingga Februari 2027 akibat dampak El Nino. Angka ini berasal dari model ekstrapolasi yang dikembangkan oleh Climate Impact Lab, lembaga riset yang berbasis di University of Chicago, AS, dengan mengacu pada tren kematian terkait suhu di 40 negara lain yang memiliki kesamaan iklim dan tingkat pendapatan. Proyeksi ini tidak menghitung kematian langsung akibat panas ekstrem, melainkan kenaikan jumlah kematian yang menyimpang dari rata-rata periode yang sama antara 1996 hingga 2025.

Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan proyeksi kematian berlebih tertinggi di dunia, meski metode yang digunakan masih dalam tahap peer-review dan belum diverifikasi secara empiris. Keterbatasan data kematian resmi di Indonesia menjadi kendala utama. Berdasarkan laporan Statistik Hayati 2019–2023, hanya 56,7% dari seluruh kematian yang terjadi di tahun 2023 tercatat secara formal dalam sistem Dukcapil, sehingga tidak memungkinkan pengukuran langsung seperti yang dilakukan di Eropa melalui sistem EuroMOMO.

Untuk mengatasi keterbatasan data, peneliti memanfaatkan pola hubungan antara suhu dan kematian dari negara-negara yang dianggap serupa secara iklim dan ekonomi. Metode ini mengasumsikan bahwa respons kesehatan manusia terhadap perubahan suhu akan serupa di wilayah-wilayah dengan karakteristik serupa. Namun, peneliti sendiri mengakui tidak mampu melakukan uji coba balik (backtest) pada periode El Nino sebelumnya seperti 1997–1998 atau 2015–2016, karena data kematian yang akurat tidak tersedia untuk validasi.

Meski demikian, temuan ini tetap relevan sebagai alat peringatan dini. Kematian akibat panas sering kali tidak dicatat secara eksplisit sebagai kematian panas, melainkan sebagai kematian akibat penyakit jantung, gangguan pernapasan, atau gagal ginjal—yang secara statistik bisa diidentifikasi sebagai kenaikan berlebih dari tren normal. Studi global menunjukkan bahwa fluktuasi suhu ekstrem, baik panas maupun dingin, berdampak pada kematian, dengan sebagian besar kematian berlebih terkait suhu rendah. Namun, dalam konteks El Nino, dampak panas menjadi fokus utama.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya