Produsen Ponsel Manfaatkan DRAM Bekas Atasi Kelangkaan
Produsen ponsel mulai memanfaatkan DRAM daur ulang dari perangkat lama untuk menjaga kelancaran produksi akibat krisis pasokan memori global.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 09.26 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 29x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Sejumlah merek ponsel asal Tiongkok kini mengadopsi strategi baru dalam rantai pasokan dengan memanfaatkan memori Dynamic Random-Access Memory (DRAM) bekas sebagai komponen utama. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap tekanan pasokan dan kenaikan harga yang mengganggu operasional produksi pada kuartal kedua 2026. Dalam laporan terbaru, perusahaan mengalihkan fokus dari pasokan memori baru ke penggunaan komponen yang telah diambil dari perangkat lama seperti ponsel, laptop, dan server.
Prosesnya melibatkan pengambilan chip memori bekas, pembersihan menyeluruh, serta pengujian ketat terhadap kinerja dan daya tahan. Hasilnya, DRAM yang telah beroperasi lima hingga enam tahun dapat dipakai kembali dalam perangkat baru, terutama untuk model ponsel kelas menengah bawah. Dengan demikian, produsen mampu menaikkan target produksi pada akhir kuartal ketiga, meski dengan biaya yang lebih terkendali.
Namun, penggunaan komponen daur ulang menimbulkan kekhawatiran terhadap keandalan jangka panjang perangkat. Degradasi sel memori yang terjadi seiring waktu dapat menyebabkan penurunan kinerja dan meningkatkan risiko kesalahan data. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi konsumen yang mengharapkan stabilitas perangkat dalam jangka waktu lama.
Krisis pasokan memori diperkirakan akan berlangsung hingga melampaui tahun 2027. Alasannya, produsen memori utama seperti Samsung dan SK Hynix kini mengalihkan produksi ke produk memori bermargin tinggi, seperti High-Bandwidth Memory (HBM) untuk kebutuhan kecerdasan buatan. Hal ini menyebabkan penurunan pasokan untuk industri ponsel pintar.
Menurut analis dari Counterpoint Research, penggunaan DRAM daur ulang hanya sebagai solusi sementara, bukan jawaban permanen atas krisis. Solusi ini menunjukkan betapa dalamnya ketergantungan industri terhadap komponen memori dan keterbatasan kapasitas produksi global. Tanpa intervensi strategis, tren ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga masa depan yang belum terlihat jelas.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Iran Diklaim Perkuat Aksi Target Warga AS di Berbagai Wilayah
Intelijen AS memperingatkan peningkatan upaya Iran menargetkan warga negara Amerika di Timur Tengah dan sejumlah negara lain, menyusul meningkatnya ketegangan bilateral.
24 Oktober 2026

Jajak Pendapat Akhir Sebelum Pemilu Israel Tunjukkan Kekuatan Oposisi Melonjak
Jajak pendapat terbaru menunjukkan blok Netanyahu anjlok ke 48 kursi, sementara oposisi Yahudi naik ke 54 kursi, menandai pergeseran signifikan menjelang pemilu 27 Oktober.
24 Oktober 2026

Larangan HP di Kelas Dorong Fokus dan Peningkatan Prestasi
Studi besar di India menunjukkan pelarangan penggunaan ponsel selama kelas meningkatkan fokus belajar dan hasil akademik mahasiswa, terutama bagi yang awalnya berprestasi rendah.
24 Oktober 2026

TBLA Bantah Kaitan dengan Kebakaran Lahan Melalui PML
TBLA menegaskan tidak memiliki keterlibatan dalam pengelolaan lahan atau kegiatan usaha PML, meski terdapat hubungan transaksi suku cadang dan kesamaan pemegang saham.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

BEI Pantau Transaksi Saham PNSE dan DKHH Akibat Volatilitas Ekstrem
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Agoes Projosasmito Akuisisi Saham BRMS Senilai Rp2,4 M
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Inflasi Jepang Naik, BOJ Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga Lagi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Saham Murah Bukan Jaminan Menguntungkan, Ini Peringatan Ahli
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.39 WITA

Menko Airlangga: Bukan Hanya MSCI yang Menentukan Kredibilitas Pasar Modal
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

BRI Perluas Akses Magang Nasional untuk Generasi Muda
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.38 WITA

Rasio Elektrifikasi Nasional Tembus 99,8 Persen, Tantangan di Desa Masih Menanti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

Mentan Tekankan Kesiapan Swasembada Pangan Hadapi La Nina
Sabtu, 24 Oktober 2026, 15.37 WITA

