PSSI Kecam Kekerasan terhadap Tim Muda Persib di Tol Batang
PSSI mengecam tindak kekerasan terhadap bus Elite Pro Akademi Persib di rest area Tol Batang, menegaskan tidak ada ruang bagi kekerasan dalam sepak bola.
Redaksi iNarasikita·Senin, 12 Oktober 2026, 21.10 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - PSSI menyampaikan kekecewaan mendalam atas insiden kekerasan yang menimpa rombongan tim Persib Bandung U-18 di rest area KM 360, Tol Batang, pada malam hari Minggu (11/10). Aksi brutal tersebut menimbulkan kerusakan pada kendaraan, dugaan perusakan barang bawaan, serta kekerasan fisik terhadap awak media yang mendampingi rombongan. Sejumlah pemain muda yang masih berusia dini menjadi korban dari aksi yang dianggap tidak berdasar dan tidak pantas dalam konteks olahraga.
Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, menegaskan bahwa kekerasan semacam ini sama sekali tidak dapat dibenarkan, terlebih jika menimpa anak-anak muda yang sedang berjuang untuk mengembangkan bakat di sepak bola. Ia menekankan bahwa para pemain muda tersebut tidak memiliki keterlibatan dalam dinamika rivalitas antar suporter, melainkan hanya fokus pada pengembangan diri dan prestasi untuk klub serta bangsa. "Mereka tidak tahu apa-apa soal persaingan ekstrem. Mereka hanya bermain untuk tujuan positif—bagi klub, bagi sepak bola nasional, dan bagi masa depan mereka sendiri," ujar Yunus.
PSSI menegaskan kembali komitmen untuk menjaga keselamatan semua pihak yang terlibat dalam dunia sepak bola, termasuk suporter, pelatih, pemain, dan media. Dalam keterangannya, PSSI menekankan bahwa setiap orang yang datang menyaksikan pertandingan harus bisa kembali ke rumah dengan selamat, sesuai prinsip yang dianut FIFA. "Kami sangat menyayangkan insiden ini. Ini sudah tidak masuk akal. Anak-anak muda tidak layak menjadi sasaran kekerasan," tambah Yunus.
Pihak PSSI telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini dan mendesak penegak hukum bertindak cepat dalam menangkap pelaku. PSSI menegaskan bahwa para pelaku harus mendapatkan sanksi hukum seberat-beratnya, sebagai bentuk pertanggungjawaban dan pencegahan serupa di masa depan. "Jika ini terus terjadi, damai dalam sepak bola tidak akan pernah terwujud. Rivalitas harus tetap terbatas pada lapangan, bukan di luar," tutur Yunus.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Barcelona dan Man City Jaga Rekor Tak Terkalahkan di Awal Musim
Dua klub elite Eropa, Barcelona dan Manchester City, berhasil mempertahankan rekor menang sempurna setelah delapan dan enam pertandingan awal musim ini.
12 Oktober 2026

Jadwal Liga Champions Matchday 2: Duel Klasik Atletico vs MU Jadi Sorotan
Pertandingan Atletico Madrid vs Manchester United menjadi salah satu laga krusial dalam jadwal Liga Champions pekan ini, menyusul tiga belas pertandingan lain yang digelar antara 13–15 Oktober 2026.
12 Oktober 2026

Hakim Danish Hadapi Tekanan Mental Usai Debut di Moto3 Mandalika
Pembalap muda Malaysia, Hakim Danish, mengalami tekanan psikologis pasca debut penuh di Moto3 2026, meski mampu finis ke-14 dan kumpulkan 107 poin.
12 Oktober 2026

Indonesia Tampilkan 14 Wakil di Denmark Open 2026
Tim bulutangkis Indonesia mengirim 14 wakil ke Denmark Open 2026, termasuk juara dan peraih medali Asian Games, untuk menunjukkan kekuatan kompetitif di level Super 750.
12 Oktober 2026
Berita Lainnya

Police Story: Lockdown Tampilkan Dilema Ayah dan Detektif
Senin, 12 Oktober 2026, 21.11 WITA

Konser Avenged Sevenfold di Jakarta Didera Kritik Penonton
Senin, 12 Oktober 2026, 21.11 WITA

Serangan Udara Tewaskan 72 Penambang Emas di Perbatasan Sudan-Mesir
Senin, 12 Oktober 2026, 21.09 WITA

AI Ciptakan Nostalgia 1980-an, Tapi Waspadai Risiko Privasi
Senin, 12 Oktober 2026, 21.09 WITA

Ketua Yayasan Daycare Little Aresha Dituntut 10 Tahun Penjara
Senin, 12 Oktober 2026, 21.08 WITA

Korea Selatan dan Utara Percepat Uji Coba Rudal dalam Siklus Provokasi
Senin, 12 Oktober 2026, 21.08 WITA

Menlu Baru Tekankan Konsistensi Politik Luar Negeri
Senin, 12 Oktober 2026, 21.08 WITA

Indonesia Dorong Budi Gunadi Jadi Dirjen WHO untuk Keadilan Global
Senin, 12 Oktober 2026, 21.08 WITA

