Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rantai Pasok Tangguh Kunci Optimalisasi Nilai Mineral Kritis

Investasi terkoordinasi dan rantai pasok yang kuat menjadi kunci utama untuk mengeksploitasi nilai tambah tinggi dari mineral kritis di Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 24 Oktober 2026, 12.22 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 12x dibuka
Rantai Pasok Tangguh Kunci Optimalisasi Nilai Mineral Kritis📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Peningkatan nilai ekonomi dari mineral kritis tidak hanya bergantung pada ekstraksi, melainkan pada kekuatan sistem pengolahan dan distribusi yang terintegrasi. Menurut Managing Director Development Investment DDMF, M Rachmat Kaimuddin, kapasitas pengolahan yang ada belum cukup tanpa dukungan rantai pasok yang tangguh, kemitraan strategis, serta ketersediaan modal untuk menopang investasi swasta. Diperlukan sinergi antarlembaga dan sektor untuk membangun ekosistem industri yang berkelanjutan dan mampu menyerap potensi nilai tambah secara maksimal.

Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan potensi ekspansi nilai yang sangat signifikan. Bijih nikel dengan harga 30 dolar AS per ton mampu meningkatkan nilai hingga 3.628 dolar AS per ton saat diolah menjadi mixed hydroxide precipitate, bahan baku utama baterai. Pada tahap produk akhir seperti baterai, nilai tambah bahkan melonjak hingga 642 kali lipat dari harga awal. Angka ini menjadi bukti bahwa potensi ekonomi terbesar terletak pada proses hilirisasi, bukan sekadar ekspor bijih mentah.

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai 50 miliar dolar AS pada akhir 2026, meningkat dari 34,5 miliar dolar AS pada 2024. Pertumbuhan 45 persen ini menunjukkan momentum kuat dalam transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga memperkirakan kebutuhan baterai nasional mencapai 108,2 gigawatt-jam pada 2030, dengan proyeksi kebutuhan kapasitas baterai mencapai 780 gigawatt-jam untuk mendukung kendaraan listrik. Saat ini, kapasitas bahan baku yang tersedia hanya 373 gigawatt-jam, membuka ruang investasi sekitar 407 gigawatt-jam.

Kerja sama internasional, khususnya dengan negara-negara ASEAN dan Afrika, dinilai penting untuk memastikan distribusi nilai ekonomi transisi energi tidak hanya menguntungkan pusat manufaktur global, tetapi juga memperkuat industri lokal di negara penghasil. Investasi tidak hanya dinilai dari imbal hasil finansial, tetapi juga dari kontribusinya terhadap peningkatan kapasitas ekonomi, produktivitas, daya saing industri, serta distribusi manfaat pembangunan yang lebih merata.

Dalam kerangka transformasi ekonomi, mineral kritis bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan alat strategis untuk mempercepat kenaikan kelas Indonesia dalam peta industri global. Keberhasilan memanfaatkan potensi ini bergantung pada kemampuan mengubah keunggulan sumber daya alam menjadi kekuatan industri, penguasaan teknologi, dan kesejahteraan yang lebih merata. Dengan pendekatan investasi yang berkualitas dan industrialisasi yang mendalam, Indonesia dapat memposisikan diri sebagai pemain utama dalam rantai nilai global baterai dan energi bersih.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya