Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Review MSCI Picu Gejolak Pasar, DPR Minta Transparansi dan Akselerasi Perbaikan

Kenaikan status pasar modal Indonesia ke Standalone Market akibat evaluasi MSCI memicu koreksi tajam di IHSG, menyulut respons serius dari DPR yang memimpin koordinasi antarlembaga guna perbaikan tata kelola pasar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 15.22 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 27x dibuka
Review MSCI Picu Gejolak Pasar, DPR Minta Transparansi dan Akselerasi Perbaikan📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi pasar modal Indonesia mengalami tekanan berat pada Jumat (16/10/2026), dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga 11% dalam sehari, menyebabkan penghentian sementara perdagangan (trading halt). Gejolak ini dipicu oleh pengumuman awal dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mulai melakukan konsultasi untuk menurunkan status pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Keputusan ini menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kepercayaan investor global terhadap transparansi dan struktur kepemilikan saham di dalam negeri.

Dalam upaya menjaga stabilitas sistem keuangan, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyatakan bahwa lembaga legislatif telah mengambil langkah koordinatif secara cepat. Ia menegaskan bahwa DPR, sebagai bagian dari fungsi pengawasan, telah memantau perkembangan pasar secara intensif dan meminta otoritas pasar modal—termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI)—untuk mempercepat proses perbaikan tata kelola. Meski MSCI seharusnya baru memulai proses konsultasi pada bulan November, keputusan awal yang muncul lebih awal justru mempercepat urgensi respons dari regulator dan pelaku pasar.

Dasco menyoroti bahwa upaya perbaikan telah dilakukan lebih awal oleh OJK dan BEI, termasuk dalam menyusun kebijakan yang menjawab kekhawatiran internasional terkait perdagangan saham yang terkoordinasi dan tingkat transparansi struktur kepemilikan. Namun, keterlambatan atau ketidaksesuaian dalam pelaksanaan rencana tersebut dinilai menjadi faktor pemicu ketidakpercayaan. Untuk itu, DPR menggelar rapat koordinasi darurat dengan berbagai pihak terkait, termasuk Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Komisioner OJK Hasan Fawzi, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, Direktur Utama Danantara Dony Oskaria, serta Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, guna memastikan keterbukaan informasi dan respons terukur dari semua pihak.

Tujuan utama dari langkah ini adalah menegaskan komitmen bersama terhadap peningkatan kualitas tata kelola pasar modal Indonesia agar tetap menarik minat investasi asing secara berkelanjutan. Dengan adanya rapat koordinasi yang melibatkan regulator, pelaku pasar, dan penegak hukum, diharapkan dapat membangun kepercayaan pasar dan mencegah dampak negatif lebih lanjut dari keputusan MSCI. Pemerintah dan lembaga terkait diminta tetap proaktif, transparan, serta menjalankan reformasi sistemik untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya